Gareng: “Truk, di organisasi tempatku gabung, kok akhir-akhir ini banyak ‘kadal’ ya?”
Petruk: “Kadal? Maksudmu reptil berkaki empat yang demen berjemur itu?”
Gareng: “Bukan, Truk. Ini kadal organisasi—bentuknya manusia, kelakuannya licik, lincah ngilang pas kerja, muncul pas bagi-bagi jabatan!”
Petruk: “Ohhh… kuwi! Antara kadal dan kader, tipis ejaan, tapi jauh bedanya di pengabdian!”
KADAL ORGANISASI: MELATA DALAM DIAM, MENGGIGIT SAAT BERJAYA
Kadal organisasi bukan makhluk langka. Mereka justru berkembang biak pesat di habitat organisasi, komunitas, hingga partai.
Awalnya datang dengan wajah manis, janji manis, dan chat manis: “Saya siap berjuang, Bang!”
Tapi begitu disuruh ikut kerja bakti, tiba-tiba hilang sinyal.
Disuruh nulis laporan? Tiba-tiba “sakit lambung akut pas deadline”.
Tapi pas ada undangan makan-makan, muncul duluan, duduk paling depan, nanya: “Ini bisa nambah gak, Bang?”
Mereka ahli kamuflase. Di depan pengurus rajin, di belakang nggosipin senior. Di depan kader bicara idealisme, di grup WA ngatur strategi rebut jabatan.
KADER SEJATI: TAHAN UJIAN, TAK BUTUH PENGAKUAN
Berbeda dengan kadal, kader sejati nggak sibuk tampil. Mereka sibuk berbuat.
Kader nggak nunggu kamera untuk bergerak. Nggak harus dipanggil untuk datang. Nggak nyari panggung, karena panggung sejatinya adalah pelayanan.
Kader itu…
Datang duluan, pulang belakangan.
Konsisten di masa tenang, nggak cuma eksis di masa kampanye.
Nggak cuma hafal AD/ART, tapi juga hidup dalam nilai-nilai perjuangan.
Kalau kadal pakai strategi, kader pakai nurani.
Kalau kadal cari keuntungan, kader cari kebenaran.
Kalau kadal hanya loyal pada kemenangan, kader tetap setia dalam kekalahan.
Kapan Kadal Muncul?
Biasanya saat:
Organisasi mulai terkenal
Ada proyek atau anggaran cair
Jabatan-jabatan mulai dibagikan
Media mulai meliput
Saat organisasi susah, kadal menyamar jadi dedaunan. Tapi saat organisasi naik daun, mereka mendadak jadi daun paling ijo dan minta dilamar jadi ketua harian.
Petruk: “Sing paling lucu, Reng, kadal organisasi ini kadang bikin pengakuan: ‘Saya ini pejuang di balik layar.’”
Gareng: “Layar siapa? Wong pas zoom rapat aja gak pernah nongol!”
Kritik Sosial: Kita Kekurangan Kader, Kebanyakan Kadal
Organisasi kita hari ini sering krisis kader, bukan karena nggak ada orang pintar, tapi karena terlalu banyak orang licin.
Setiap generasi butuh kader yang siap berkeringat, bukan kadal yang siap mengelak.
Tapi sayangnya, budaya instan lebih menarik. Kader butuh waktu, kadal cari shortcut.
Kader lahir dari proses, kadal lahir dari oportunis.
Kader belajar sabar, kadal belajar cara cepat naik pangkat.
Solusi: Bikin Karantina Kadal
Bisa jadi tiap organisasi perlu:
1. Tes niat sebelum rekrut.
2. Karantina sebelum diberi jabatan.
3. Bikin pelatihan “Deteksi Dini Kadalisme”.
4. Dan yang paling penting: kasih panggung hanya untuk yang mau turun panggung demi kerja nyata.
Penutup dari Gareng dan Petruk
Gareng: “Jadi, Truk, dalam organisasi, kita harus bisa bedakan: siapa yang betul-betul kader, siapa yang cuma kadal.”
Petruk: “Setuju, Reng. Karena kalau organisasi penuh kadal, bukan perubahan yang terjadi, tapi penggulingan dari dalam!”
Redaksi GarengPetruk.com
Di mana satire jadi cermin, dan tawa menyadarkan bahwa organisasi butuh kader, bukan kadal berkedok loyalitas.
















