BATU – Di tengah banyak kepala desa yang sibuk cari endorsean dan rebutan stempel bansos, ada satu nama yang malah bikin kita angkat topi (meski topinya minjem): Suliono, Kepala Desa Tulungrejo. Bukan karena dia viral di TikTok, tapi karena sukses nyeret nama desanya ke panggung internasional!
Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jatim, berhasil menyalip destinasi wisata se-Asia Tenggara dan menang Responsible Tourism (RT) Award SEA 2025. Halah… Singapura ngelus dada, Thailand ngucek mata, Malaysia mingkem.
“Oalah… desa kok bisa menang?”
“Yo bisa, asal yang mimpin waras.”
—
Wisata Nggak Cuma Estetik, Tapi Etik
Gareng, yang biasa wisata ke warung kopi sebelah balai desa, langsung penasaran:
“Iki wisata bertanggung jawab itu opo? Bikin selfie sambil minta maaf ke pohon?”
Ternyata bukan. Tulungrejo menyulap dirinya jadi desa laboratorium hidup, bukan cuma nyuguhin pemandangan, tapi juga edukasi lingkungan, agroforestri, dan pariwisata yang nggak bikin alam nangis.
Kata Pak Kades Suliono:
“Kami tidak mau wisatawan datang hanya untuk meninggalkan sampah dan kenangan pahit.”
Gareng langsung jawab:
“Mantap, Pak! Wisata kok bikin mantan kangen, salah konsep!”
—
Filipina Ketiban Jagung, Tulungrejo Bawa Pulang Trofi
Seremoni puncak penghargaan akan digelar tanggal 18 Juni 2025 di Filipina. Gareng sempat tanya,
“Pak Kades naik Garuda apa bawa truk bak terbuka?”
Yang penting bukan naik janji politik, karena itu biasanya cuma jalan pas musim kampanye.
—
Tulungrejo vs Desa-desa Nginfluencer
Di tengah tren kepala desa jadi seleb medsos, Suliono lebih milih ngurusi kebun daripada kamera.
“Pak Kades ini kalau bikin konten, isinya cara bikin pupuk organik, bukan joget-joget pakai seragam.”
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Pak Onny Ardianto, ini semua karena sinergi: pemerintah, desa, dan rakyat nggak cuma saling lempar wacana, tapi kerja beneran!
—
Sindiran Lembut ala Kentang Rebus
Gareng sempat nyeletuk di tengah kebun strawberry Tulungrejo:
“Banyak desa punya potensi, tapi malah sibuk bagi-bagi proyek paving dan stiker wajah Kades.”
Desa Tulungrejo jadi contoh kalau membangun itu bisa tanpa drama. Bukan soal dana yang besar, tapi niat yang waras.
Kalau kepala desa bisa diajak mikir bareng rakyat, kenapa harus diajak pesta dangdutan terus?
—
Kepemimpinan Inovatif: Antara Cangkul dan Visi Global
Suliono bukan superhero. Tapi dia ngerti, desa itu bukan tempat buangan anak kota, tapi masa depan bangsa.
“Kalau desa tumbuh dengan bijak, kota nggak perlu sibuk nyari oksigen.”
—
Penutup: Desa Maju Bukan Cuma Karena Jalan Aspal
Desa Tulungrejo membuktikan: desa bisa keren tanpa harus ngekor kota. Bisa cerdas, ramah lingkungan, dan berdaya. Bukan karena gaya, tapi karena makna.
Gareng berharap, keberhasilan Tulungrejo ini jangan cuma jadi bahan press release dan selfie pejabat. Tapi jadi cambuk untuk desa lain, biar nggak cuma manis di proposal, tapi juga nyata di ladang.
“Suliono ngajarin kita: jadi pemimpin itu bukan soal jabatan, tapi soal tindakan.
Ngurusi desa nggak bisa pakai script, harus pakai hati—dan kadang cangkul juga.”
—
Hidup Suliono, hidup desa, dan hidup pembangunan yang gak cuma numpang numpang baliho!
Salam dari Gareng Petruk, reporter ndeso dengan logika nyentrik, tapi tulus nulis buat rakyat kecil.
















