Jember, Dusun Krajan – Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah yang jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025, menjadi hari spesial nan full service bagi warga Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Bayangkan saja, di hari itu warga bukan cuma melaksanakan satu, dua, tapi TIGA ibadah besar sekaligus!
Mulai dari sholat Ied, dilanjut sholat Jumat, dan ditutup dengan aksi heroik menyembelih hewan qurban. Sebuah kombinasi yang kalau pakai istilah jaman now: “Triple kill spiritual!”
Lokasinya? Di Masjid Baitul Gufron, yang terletak strategis di pinggir jalan poros dusun Krajan. Tempat yang biasanya dilewati motor matic dan ibu-ibu pulang pasar, mendadak jadi pusat perayaan keimanan yang luar biasa.
—
Kyai Abdullah: Sang Dirigen Ibadah
Kyai Abdullah, sang ketua takmir dan komandan spiritual masjid Baitul Gufron, saat diwawancarai wartawan GarengPetruk.com dengan posisi duduk bersila dan senyum teduh khas ulama kampung, menjelaskan:
> “Hari ini jamaah kita kurang lebih 300 orang. Kita bareng-bareng sholat Ied, lanjut Jumat, dan siangnya nyembelih dua sapi dan dua kambing. Bismillah, semua lillahi ta’ala.”

Wih, padat merayap ibadahnya, kayak jalan provinsi habis hujan.
Tapi jangan salah, niat mereka sungguh mulia. Menurut sang Kyai, harapannya bukan cuma daging yang nyampe ke tangan warga, tapi juga berkah yang nyampe ke hati mereka. Kalau bisa, ya bonus pahala yang dikemas dalam amplop surga, langsung dari Allah SWT. Amin!

—
Modin Sunarto: Dari Kesejahteraan Sampai Sapi
Sementara itu, Pak Sunarto, sang Modin alias kepala urusan kesejahteraan masyarakat (tugasnya bisa dari ngurus nikahan sampai ngitung kambing), juga ikut bersuara:
> “Yang berkurban semoga diterima amalnya dan jadi contoh buat yang lain. Biar tahun depan makin banyak yang nyembelih. Kambingnya tambah, pahalanya dobel.”
Betul, Pak Modin! Tapi jangan lupa, kurban itu bukan soal kuantitas hewan, tapi kualitas niat. Jangan sampai yang disembelih cuma sapi, tapi nafsu egoisme tetap dibiarkan berkeliaran kayak ayam kampung lepas kandang.
—
Catatan Penting dari Redaksi Gareng Petruk:
Idul Adha bukan cuma soal sate dan sop daging. Tapi tentang bagaimana manusia belajar rela, belajar berbagi, dan belajar mengalah pada ego.
Di tengah zaman yang serba pamer—dari pamer outfit, pamer feed qurban, sampai pamer caption ayat—warga Dusun Krajan ini justru jadi teladan: sederhana tapi sungguh-sungguh.
Tapi kami juga mau nyentil dikit:
Masih ada gak sih masyarakat kita yang kalau pas hari raya sibuk tanya “daging kurban kapan dibagi?” daripada tanya “apa saya sudah cukup taqwa untuk bisa berkurban tahun depan?”
Lha, jangan-jangan niatnya makan, bukan makna.
—
Penutup:
Jadi buat Anda yang mungkin belum bisa kurban tahun ini, jangan sedih. Kurban bukan perlombaan sosial, tapi ajang refleksi spiritual. Dan buat yang sudah kurban, jangan berhenti di daging. Lanjutkan dengan akhlak yang empuk dan hati yang matang.
> Karena hakikat kurban itu bukan pada pisau yang tajam, tapi hati yang lapang.
– Gareng & Petruk
—
GarengPetruk.com — Idul Adha-nya rakyat kecil, kritiknya besar, maknanya dalam, candaannya tetap halal.















