INHU – Hari Buruh alias May Day datang lagi, dan kali ini bukan cuma buruh yang siap turun ke jalan, tapi juga aparat yang turun dengan senyum semringah dan pendekatan humanis. Waduh, baru kali ini Petruk lihat polisi lebih ramah dari satpam minimarket yang sedia nge-stempel parkir!
Apel gabungan yang digelar Kamis pagi di Halaman Plaza Rengat ibarat konser orkestra: lengkap personelnya! Ada 40 polisi Polres Inhu, 20 tentara dari Kodim 0302/Inhu, 20 Satpol PP yang biasanya jago merazia pedagang kaki lima, dan 10 petugas Dishub yang ahli mengarahkan kendaraan tapi sering salah arah sendiri. Pokoknya lengkap, tinggal kurang grup drum band aja biar bisa kirab juga.

Dipimpin langsung oleh Wakapolres Inhu, KOMPOL Manapar Situmeang, apel ini bukan apel Fuji tapi apel kesiapan! Katanya sih, pengamanan kali ini humanis. Nah, ini dia yang perlu kita kasih jempol kaki: bukan cuma mengamankan, tapi juga memanusiakan!
“Kita semua pelayan masyarakat,” ujar beliau. Lha, ini baru mantap! Petruk sampai curiga jangan-jangan abis ini polisi juga bisa bantu ibu-ibu nyebrangin anak ke sekolah sambil nyanyiin lagu anak-anak. Persuasif katanya, bukan represif. Wih, perubahan yang layak diabadikan di buku sejarah, bukan cuma buku laporan dinas.
Tapi ya, Gareng tetap ngingetin: jangan sampai “humanis” cuma jadi label tempelan doang kayak stiker di motor dinas. Soalnya kadang, di lapangan beda cerita, bisa kayak mie instan: kelihatannya enak, eh pas dicicipi malah overcooked. Buruh yang datang pengin dialog, jangan malah disambut kayak penonton konser ilegal.

Ngomong-ngomong soal buruh, dialog interaktif antara Bupati dan pengurus serikat buruh ini sebenarnya potensi emas. Asal bukan dialog satu arah, yang isinya cuma sambutan panjang, lalu foto-foto, dan bubar jalan. Bukan debat kusir, tapi diskusi yang nyambung, bukan yang asal “iya, Pak” padahal dalam hati “nggak, Pak!”
Setelah apel, para personel disebar ke titik strategis. Strategis itu bisa artinya penting, bisa juga artinya rame dan rawan. Tapi yang penting, jangan sampai ada yang nyasar ke warung kopi dan malah lupa ngamanin. Ingat, keamanan bukan cuma soal keramaian, tapi juga kenyamanan.
Akhir kata, Gareng dan Petruk cuma mau bilang: semoga May Day bukan cuma seremonial doang, tapi jadi momen buruh didengar dan dihargai. Polisi aman, buruh nyaman, rakyat senang. Kalau semua pihak main di nada yang sama, bukan mustahil Indonesia bisa bersenandung damai, bukan bersaing teriak.
Selamat Hari Buruh!
Salam dari kami berdua: Gareng dan Petruk, pejuang satire rakyat jelata.
Yang penting: lucu dulu, mikir belakangan!
















