Jember, Sabtu (24/05/2025) – Di tengah dunia yang makin gemar ngonten tapi lupa ngonten isi perut, Kades Lembengan, Mohamad Soefijandi SE MM, hadir seperti superhero desa: bukan pakai jubah, tapi pakai niat baik dan susu telur.
Acara yang berlangsung di pendopo desa ini bukan acara bagi-bagi like atau giveaway skincare, melainkan PMT alias Pemberian Makanan Tambahan untuk balita dan ibu hamil. Bukan PMT yang bikin ngantuk di kelas, lho, tapi PMT yang bisa bikin generasi bangsa tumbuh sehat, ndak tinggal kelas dalam gizi.
Menurut sang Kades yang kini makin trending di hati warga, ada 31 balita dan 81 ibu hamil yang dapet jatah susu dan telur. “Biar anak-anak Lembengan gak stunting. Masa depan Indonesia kok cungkring, yo ora lucu!” ujar beliau sambil tersenyum seperti baru dapet diskon di warung kopi.
Gareng yang biasanya suka ngomel, kali ini justru terharu. “Lho, ini baru pemimpin! Ndak cuma ngurus proyek paving, tapi juga paving jalan menuju generasi sehat,” katanya, sambil nyengir lebar.
Petruk pun nyamber, “Kalau ibu hamil jaga pola makan, anak lahir kuat. Tapi kalau yang dijaga cuma status medsos dan gorengan lima ribuan, ya siap-siap lahir anak sakti: kuat nahan lapar dan kebal gizi!”
Selain itu, Kades juga ngasih wejangan khas bapak-bapak bijak: “Jangan makan makanan yang gak sehat, apalagi mie instan dicampur kerupuk terus tiap hari. Anak bisa lahir doyan MSG, bukan susu.”
Acara berjalan kondusif, aman, dan tidak ada telur yang pecah karena debat politik. Malah ada ibu-ibu yang saking senengnya, minta foto bareng telur bantuan. Katanya, “Dua ini penyelamat keluarga!”
GPNN menyimpulkan: Kadang revolusi itu tak butuh demo, cukup sebutir telur dan seteguk susu — asal niatnya tulus, dan gak korupsi dana posyandu!
Hidup sehat, hidup waras, dan ingat: stunting bukan takdir, tapi bisa dicegah — asal pemimpinnya gak stunting otak. Bravo, Kades Lembengan!
















