Jember – garengpetruk.com (2/6/2025)
Di saat sebagian warga Rambipuji menggiling daging untuk bikin bakso, ternyata ada juga yang menggiling kesabaran. Gara-garanya? Sebuah mesin selep daging yang bunyinya nyaris bisa nembus mimpi dan ngebangunin ayam kampung lebih cepat dari azan subuh.
Kisah ini mencuat setelah Yudi, warga Dusun Curahancar, Desa Rambipuji, merasa rumahnya seperti studio efek suara film Godzilla. Suara mesin selep daging yang berdengung sejak pagi buta katanya bikin “telinga berdengung sampai ke ubun-ubun”. Tak cukup sampai di situ, asap pembakaran sampah plastik juga ikut menyusup masuk ke rumahnya, seperti tamu tak diundang yang bawa oleh-oleh bau menyengat.
Tak tahan, Yudi pun melayangkan laporan lewat program “Wadul Guse”, kanal khusus rakyat Jember untuk curhat ke Bupati Muhammad Fawait alias Gus Fawait. Wadul ini langsung bikin geger—bukan karena selepnya, tapi karena warga lain baru sadar bahwa suara bising itu bukan efek konser dangdut keliling.
Kasun: Dicari Pelapor, Rumah Selalu Tertutup
Kasun Curahancar, Pak Sutrisno, turut angkat bicara (meski suara mesin selep kadang bikin wawancara teriak-teriak). Ia mengaku sudah mencoba mediasi, tapi pelapor susah ditemui.
“Kami sudah ke rumah pelapor, tapi selalu tertutup. Entah rumahnya, entah hatinya,” kata Sutrisno sambil mengelus dada.
Desa bahkan sudah dapat instruksi dari Camat untuk memediasi kedua belah pihak, tapi pelapor masih seperti sinyal HP di pedalaman: hilang timbul.
Edi Selep: Kami Cuma Mencari Nasi, Bukan Mencari Masalah
Sementara itu, Edi—pemilik selep daging—menjelaskan bahwa usaha itu adalah satu-satunya cara mencari nafkah buat keluarganya. Ia menyewa tempat itu bersama pedagang lain dan merasa tak pernah ada keluhan sebelumnya.
“Kalau disuruh pindah, kami mau pindah ke mana? Ke Mars?” ujar Edi, setengah pasrah setengah bingung.
Edi mengaku siap memperbaiki hal-hal teknis jika memang mengganggu. Tapi ia juga berharap ada solusi win-win, karena menyuruh usaha kecil pindah tanpa menyediakan alternatif itu ibarat suruh ikan pindah dari sungai ke padang pasir.
Camat Rambipuji: Giling Daging Boleh, Giling Ketentraman Jangan
Camat Rambipuji, Bpk. Djoni Nurtjahjanto SH, menanggapi laporan ini dengan cepat dan menegaskan bahwa mediasi akan segera dilakukan.
“Kami akan bantu agar masalah ini tidak digiling terus-menerus tanpa jadi bakso,” kata beliau sambil menegaskan pentingnya ketertiban dan kenyamanan bersama.
Menurutnya, selep beroperasi dari pukul 05.00–10.00 WIB, dan pihak desa telah diminta segera mempertemukan kedua belah pihak dalam waktu 1–2 hari.
Redaksi Gareng Petruk Menanggapi…
Dari kacamata redaksi kami, peristiwa ini menunjukkan betapa hidup bertetangga tak sekadar soal pagar dan senyum saat Idul Fitri. Kadang, selep daging bisa jadi simbol dari kegaduhan sosial yang lebih besar, yakni ketimpangan antara hak ekonomi masyarakat kecil dan hak kenyamanan warga sekitar.
Selep daging ini bukan hanya menggiling sapi, tapi juga menggiling sensitivitas sosial, khususnya saat ruang kota makin sempit, tapi aspirasi warga tetap lebar.
📎 Penutup:
Di kota yang ribut oleh suara mesin, kadang yang lebih mengganggu adalah diamnya solusi. Semoga mediasi bukan sekadar basa-basi, dan “Wadul Guse” benar-benar jadi tempat rakyat bisa menggiling masalahnya dengan adonan keadilan.



















