CIBUBUR – Di tengah langit Kota Wisata yang cerah ceria—dan sedikit sumuk karena banyak dosa yang belum ditobatkan—berkumandanglah suara-suara merdu dari anak-anak generasi zikir. Bukan kontes nyanyi ala panggung dangdut, tapi Musabaqoh Azan di Masjid Darussalam, Cibubur, Sabtu, 28 Juni 2025. Dan siapa yang hadir membuka acara dengan gaya low profile tapi berisi? Siapa lagi kalau bukan Dr. H. Mulyadi, MMA, Ketua Yayasan Muhammad Sultan Ramadhan.
Eh jangan salah, MMA bukan Mixed Martial Arts, ya! Tapi Mantan Murid Aktif di Sekolah Kehidupan yang sekarang jadi tokoh inspiratif.
Azan Bukan Sekadar Panggilan, Tapi Pengingat Jiwa
Di hadapan ratusan peserta yang semangatnya ngalahin fans K-Pop, Pak Mulyadi meluncurkan sambutan yang bikin yang muda merenung dan yang tua makin takut ditagih dosa.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya! Karena suara azan itu bukan cuma nada tinggi, tapi panggilan hati!”
Dalem banget. Bahkan Gareng sampai nggak sempat nyeletuk karena mulutnya tertutup sama rasa kagum. Petruk yang biasa ngikik juga mendadak khusyuk, mirip jamaah saf depan yang dapet kipas angin.
Kritiknya Halus, Tapi Nyelekit: Dari Masjid Sampai Negeri
Pak Ketua nggak cuma membakar semangat, tapi juga nyelipin kritik sosial yang dibungkus manis kayak lemper isi rendang.
“Jangan hanya suara azan yang lantang, tapi masjidnya sepi jamaah. Jangan hanya anak-anak kita disuruh hafal azan, tapi orang tuanya sibuk ngafalin konten TikTok.”
Plak! Rasanya kayak ditampar pakai sajadah wangi.
Beliau juga menyindir halus para pemangku kebijakan yang lebih doyan rapat di hotel bintang lima daripada duduk di serambi masjid.
“Kita ini kadang lupa, membangun negeri itu bukan hanya lewat infrastruktur, tapi lewat insan yang takut pada Tuhan.”
Gareng langsung nyeret sandal. Petruk spontan sujud syukur (walau menghadap pintu keluar, maaf salah arah).
Musabaqoh Azan ini jadi bukti bahwa anak-anak muda nggak semuanya rebahan sambil scroll drama Korea. Masih banyak yang berjuang melantunkan panggilan Tuhan dengan penuh penghayatan—bukan karena lomba, tapi karena cinta.
Dan Pak Mulyadi dengan gaya khasnya yang kalem tapi menggedor, mengingatkan:
“Kalau azan sudah tak menggugah hati, maka kita bukan hanya kehilangan arah, tapi kehilangan akal. Bangkitlah! Karena bangsa ini perlu anak muda yang bukan hanya pintar debat, tapi juga pintar ibadah.”
Yayasan Muhammad Sultan Ramadhan: Bukan Sekadar Nama, Tapi Asa
Yayasan ini bukan cuma tempat menanam amal, tapi juga tempat panen generasi sadar diri. Di bawah nahkoda Pak Mulyadi, mereka menanam nilai keislaman dengan metode kekinian: santai tapi serius, lucu tapi masuk hati. Dan acara ini adalah contoh nyata—meriah tanpa hura-hura, hikmat tanpa harus baper.
Penutup dari Petruk :
“Musabaqoh ini bukan cuma lomba suara, tapi pengingat jiwa. Dan sambutan Pak Mulyadi? Waduh… kayak kopi hitam: pahit, tapi bikin melek. Mari bangun jiwa kita dulu, baru badan kita bisa kerja. Lha wong badan sehat tapi jiwa lemes? Ya sama aja kayak WiFi full bar tapi nggak konek!”
Redaksi GarengPetruk.Com
Karena dari azan kita dipanggil, dan dari sindiran kita bangkit. Aamiin.














