Jember, 12 Juni 2025 – Malam itu, langit Umbulsari berselimut tenang. Suara azan Isya masih menggema dari masjid-masjid, dan warga baru selesai menyuap nasi sambil mengusap perut kenyang. Tapi suasana mendadak berubah jadi episode sinetron kriminal tanpa sensor, ketika Iman Nurhakiki, warga Dusun Sumberejo, mendadak “kesurupan celurit” dan mengamuk layaknya pendekar yang kehilangan arah hidup.
Tak tanggung-tanggung, ayah kandungnya sendiri dan tetangganya yang juga bosnya, Armanu, meregang nyawa di tangan sang anak durhaka. Sadisnya lagi, paman dan istri pelaku (yang tengah hamil 8 bulan) ikut dikejar amukan tajamnya.
Lho, ini pembunuhan atau pelampiasan rasa gagal dalam hidup?

Iman Hakiki: Dari Buruh Jeruk Jadi Tukang Jagal Dadakan
Menurut gosip yang beredar lebih cepat dari kuota internet, pelaku sehari-hari kerja ikut bos jeruk—ya, bukan petani cabe, jadi tidak seharusnya pedas hatinya. Katanya, malam itu Iman sempat datang ke rumah Armanu minta bayaran. Tak jelas dibayar atau tidak, yang pasti dia pulang, ambil celurit, dan balik lagi bukan untuk panen, tapi untuk menabur maut.
Motifnya? Sakit hati. Tapi sayangnya, hatinya yang sakit, orang lain yang dibunuh.
Seolah-olah urusan gaji yang seret bisa ditebus pakai darah. Padahal tagihan listrik dan cicilan motor tetap tidak mau dibayar pakai nyawa.
Ketika ayahnya, Imam Sapi’i—seorang ketua RT yang dikenal baik, mencoba melerai, justru ikut jadi korban. Paman Sanimin dan istri pelaku, Farida, juga tak luput dari sabetan. Farida sendiri sedang mengandung, tapi rupanya janin tak cukup bikin sang suami ingat bahwa dia seharusnya jadi pelindung, bukan penyerang.

Tetangga Syok, Desa Gemetar, Nurani Terguncang
Pak Mat, warga setempat yang malam itu sedang asik ngopi sambil ngudud, tiba-tiba merasa kopi jadi pahit, bukan karena kurang gula, tapi karena suasana mendadak horor.
> “Kami takut. Iman orangnya biasa saja. Ramah. Ndak pernah kelihatan gelagat. Apalagi bapaknya tokoh di sini. Ketua RT, kok bisa sampai dibacok begitu aja. Setan apa yang nemplok dia?”
Yah, kalau urusan “setan menempel”, jangan-jangan bukan jin, tapi beban hidup dan tekanan mental yang sudah lama terpendam. Di negeri ini, orang stres lebih mudah dapat celurit daripada dapat konseling gratis.

Polisi Datang Setelah Petaka, Lalu Menenangkan Warga
AKP Dian Eko Timoryono dari Polsek Umbulsari menyatakan bahwa motif pelaku sementara adalah sakit hati. Pelaku sudah diamankan meski awalnya susah karena membabi buta. Saat ini, pelaku dibawa ke RS. Dr. Soebandi untuk cek kondisi jiwa.
Ya, mudah-mudahan RS-nya bukan hanya memeriksa tekanan darah, tapi juga tekanan batin.
Karena di negeri ini, orang gila bisa jadi karena kesepian, tekanan ekonomi, atau terlalu lama nonton berita DPR. Dan sayangnya, yang kena dampak bukan hanya dirinya, tapi orang-orang terdekat yang mestinya dilindungi.
Kritik di Balik Celurit: Ini Tentang Kita Semua
Kejadian ini bukan sekadar “berita kriminal” yang lewat begitu saja. Ini tamparan keras buat kita yang terlalu sibuk ngurus konten TikTok sampai lupa tanya kabar tetangga.
Ketika buruh minta haknya, tapi dianggap bawahan. Ketika stres batin diabaikan, dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan.
Gareng bilang:
> “Celurit yang tajam itu bukan di bilahnya, tapi di kepala yang kehilangan arah.”
Dan Petruk menimpali:
> “Kalau negara masih sibuk urus buzzer daripada kesehatan mental, ya jangan heran kalau warganya meledak duluan.”
—
Penutup
Duka mendalam untuk korban.
Semoga yang luka lekas pulih.
Dan untuk kita semua, semoga kejadian ini jadi pelajaran: bahwa kewarasan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan RSJ dan polisi.
Karena kadang, yang gila bukan mereka yang teriak di jalan, tapi mereka yang diam-diam menyimpan dendam sampai rumah jadi kuburan.
—
📰 GarengPetruk.com – media rakyat yang mengajak mikir sambil ngakak, bukan marah-marah sambil ngibul.















