Cimahi, 22 Maret 2025 – Di sebuah aula kampus, di antara deretan kursi yang lebih banyak diisi mahasiswa berwajah penasaran (dan sedikit mengantuk), lahirlah sebuah buku yang katanya penuh rindu. Bukan rindu ke mantan yang ghosting, bukan juga rindu ke dompet yang sudah mulai tipis di akhir bulan, tapi rindu yang dijahit dalam kata-kata.

Antologi Diari Rindu yang digagas Irma Nurlatifah, S.Pd., M.Pd., dosen STAI Al-Musdariyah Cimahi, bersama para mahasiswa berbakatnya, resmi diluncurkan! Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan puisi yang bikin baper, tetapi juga ajang pembuktian bahwa rindu tidak hanya bisa dinyanyikan dalam lagu galau, tapi juga bisa dituangkan dalam sastra.
Rindu yang Tak Sekadar Galau, tapi Berarti
Menurut sang penggagas, Irma Nurlatifah, buku ini lahir dari kegelisahan, pengalaman, dan tentu saja, rindu yang mendalam. Bukan cuma rindu kepada seseorang yang mungkin sudah lupa jalan pulang, tetapi juga rindu akan kebebasan berpikir dan berekspresi.
“Menulis adalah cara kita mengabadikan perasaan dan pengalaman hidup,” ujar Irma. Kalimat ini langsung membuat beberapa mahasiswa terdiam, mungkin berpikir, “Iya juga ya, daripada rindu nggak terbalas, mending jadi puisi.”
Irma yang berasal dari Kota Wajit, Cililin, Kabupaten Bandung Barat, ingin membuktikan bahwa kampung halaman bukan sekadar tempat lahir dan pulang kampung pas Lebaran, tetapi juga sumber inspirasi yang tak ada habisnya.
Peluncuran Buku yang Bikin Ketawa, Haru, dan Berpikir
Acara peluncuran ini berlangsung meriah. Para mahasiswa yang terlibat dalam proyek ini tampak berbinar-binar, meskipun beberapa masih terlihat deg-degan karena harus membaca puisinya di depan umum. Pembacaan puisi berlangsung penuh perasaan, ada yang lirih penuh makna, ada yang dramatis seperti di sinetron, dan ada juga yang membacakan dengan gaya teatrikal ala pentas seni kampus.
Diskusi seputar proses kreatif juga menjadi bagian penting dari acara ini. Beberapa mahasiswa dengan polos bertanya, “Bu, kalau inspirasi mentok, solusinya apa?” Dijawab dengan santai oleh Irma, “Cari inspirasi dari kehidupan. Atau kalau mentok banget, ya baca buku ini!”
Sesi tanya jawab juga diwarnai pertanyaan-pertanyaan unik. Seorang mahasiswa bertanya, “Apakah rindu bisa expired?” dan dijawab oleh salah satu penyair, “Tergantung siapa yang dirindukan. Kalau dia sudah nikah sama orang lain, ya expired!” Gelak tawa pun memenuhi ruangan.
Sastra: Senjata Rahasia Generasi Muda!
Lebih dari sekadar buku, Diari Rindu adalah bukti bahwa sastra masih hidup dan bernafas di tengah gempuran konten-konten viral yang lebih sering berupa prank atau video 30 detik tanpa makna. Di era di mana banyak anak muda lebih suka menghafal lirik lagu daripada puisi, kehadiran buku ini bagaikan angin segar—mengingatkan kita bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah cara kita melihat dunia.
Dengan peluncuran Diari Rindu, harapannya bukan hanya mahasiswa STAI Al-Musdariyah yang termotivasi, tetapi juga generasi muda lainnya. Kalau mereka bisa menulis, berarti kamu juga bisa! Jangan sampai puisi hanya jadi caption galau di media sosial—jadikanlah ia sebuah karya yang abadi.
Dan siapa tahu, dari buku ini lahir penyair-penyair hebat yang suatu hari nanti puisinya dikutip di pelajaran sekolah, bikin anak-anak sekolah garuk-garuk kepala sambil berpikir, “Apa sih maksudnya?”
Selamat kepada seluruh penulis Diari Rindu! Semoga buku ini tidak hanya jadi koleksi di rak, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Iwan/GarengPetruk
















