Depok, Gareng Petruk, 20 Juli 2025 – Ada kabar semringah dari Kota Belimbing: Pemerintah Kota Depok berencana membangun flyover di Margonda. Bukan fly over biasa, tapi fly over luar biasa, karena nilainya bisa bikin Anda terbang: Rp 250 Miliar! Iya betul, Tuan dan Puan, dua ratus lima puluh miliar yang siap mengalir deras – lebih deras dari arus lalu lintas Margonda di jam bubaran kantor.
Kata Ibu Kadis PUPR Kota Depok, Citra Indah Yulianti, proyek ini rencananya akan dibangun pada tahun 2026, dengan panjang flyover 460 meter – atau kalau dikonversi, kira-kira sepanjang antrian bubur ayam gratis saat kampanye.
“Flyovernya dari Spesial Sambal sampai Toyota, terus dari Jalan Juanda ke Margonda juga dibangun 300 meteran lagi… pokoknya yang penting dua arah, cepat, dan mewah!”
Mewahnya bukan main. Karena biaya pembangunannya akan berasal dari pinjaman daerah dan hasil gombalan cinta infrastruktur dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Katanya lagi, studi kelayakannya dibantu oleh donor keuangan dari Jerman – ya mungkin biar jalannya serasa di Autobahn.
Ulasan Gareng:
Depok tampaknya tak mau kalah dengan kota sebelah. Kalau Jakarta punya MRT, BSD punya jalan layang serpentine, maka Depok pun ingin punya flyover Margonda – biar lebih high class saat macet. Lagipula, katanya ini demi mengurai kemacetan. Tapi kalau flyovernya cuma 460 meter, yang macet 6 kilometer, apakah solusi atau sekadar ilusi?
Dan kenapa harus tahun 2026? Wah, ini memang proyek jangka panjang. Mungkin sambil menunggu pemilu lewat dulu, biar anggarannya bisa ikut “terbang” sesuai aspirasi.
Kritik Sosial ala Petruk:
1. Rp 250 Miliar untuk 460 Meter?
Itu kira-kira Rp 543 juta per meter. Bahkan kalau dicetak pakai emas batangan, jalan setapak menuju warung Madura pun bisa lebih murah. Jangan-jangan nanti bukan aspal, tapi karpet merah anti debu dan anti macet?
2. Donor dari Jerman, Macet Lokal
Kalau uangnya dari Jerman, jangan sampai hasilnya jadi kayak jembatan gantung yang gantungnya cuma di anggaran. Lagi pula, kenapa yang bantu justru orang luar, padahal yang macet tiap hari warga sendiri?
3. Pinjaman Daerah?
Nah ini dia. Kalau jalan belum dibangun tapi utang sudah menggunung, nanti rakyat bisa lewat di atas flyover tapi hidupnya di bawah garis kemiskinan. Jalan boleh dua arah, tapi jangan sampai logika publik dibikin satu arah saja.
Penutup Bergaya Gareng-Petruk:
Kami setuju, Depok memang butuh solusi kemacetan. Tapi jangan sampai flyover ini jadi semacam “monumen gengsi”, bukan solusi fungsi. Apalagi kalau ujung-ujungnya cuma bisa dilewati pejabat pakai plat merah dan rakyat tetap nunggu ojol sambil berdoa hujan tak turun.
Jangan sampai proyek ini berakhir seperti kisah cinta LDR: mahal, lama, dan ujung-ujungnya gak jadi.
Depok butuh jalan keluar, bukan jalan ke proyek tanpa arah.
Tapi ya sudahlah… yang penting, jangan lupa studi kelayakan-nya juga layak diadili publik.
GarengPetruk.com
Membongkar yang terselubung, menyindir tanpa nyindir, tertawa sambil berpikir.















