Cak, mari kita ngobrol soal CSR di Kota Batu. Itu lho, bukan singkatan “Cari Sisa Receh”, tapi Corporate Social Responsibility. Bahasa kerennya: tanggung jawab sosial perusahaan. Bahasa rakyatnya: kewajiban perusahaan untuk tidak cuma cari duit, tapi juga ngasih duit balik buat rakyat dan lingkungan sekitar!
Katanya sih, sejak lahirnya Perda Nomor 10 Tahun 2020, perusahaan di Kota Batu kudu nyumbang melalui program CSR. Bidangnya boleh macam-macam: dari pertanian sampai peternakan, dari jalan-jalan sampai bangunan—pokoknya asal jangan nyumbang drama dan pencitraan doang.
Tapi nih ya, yang sering kejadian: CSR itu kayak tuyul. Katanya ada, tapi gak keliatan. Bahkan lebih sering muncul brosur daripada hasilnya. Padahal CSR bukan branding, tapi berting! Harus bertindak, bukan hanya berfoto dengan plakat sambil nyengir depan wartawan.

Masyarakat: Dari Penonton Jadi Wasit
Nah, ini yang penting: peran masyarakat. Warga Batu, sampeyan semua bukan cuma figuran. Dalam dunia CSR, rakyat itu sutradara, bukan penonton bisu. Warga berhak tahu: dana CSR ngapain aja? Dibikin pelatihan petani atau pelatihan ngedit video buat laporan palsu? Dibelikan alat pertanian atau malah alat potong pita?
Alex Yudawan, Koordinator Monev CSR (judulnya aja udah kayak tokoh anime), bilang kalau masyarakat punya hak untuk ngawasi. Bukan ngawasi kayak mantan ngintip status WA, tapi ngawasi realisasi program. Kalau ada perusahaan yang main ngumpet dana CSR kayak nyimpen selingkuhan, langsung lapor. Jangan tunggu muncul skandal dulu.
Kalau Bandel, Ya Kena Sanksi, Cak!
Perusahaan yang pura-pura gak ngerti CSR itu kayak anak sekolah pura-pura lupa PR. Bedanya, kalau anak sekolah cuma dimarahin guru, perusahaan bisa dicabut izinnya. Iya lho, ada sanksi administratif, bahkan pidana! Tapi sayangnya, yang sering terjadi, sanksi itu lebih sering jadi pasal pengantar tidur daripada senjata hukum.
Kalau pengawasan lemah, jangan heran kalau CSR jadi “Cuma Sekadar Rutinitas”. Tapi kalau masyarakat melek, aktif, dan gak gampang dibungkam dengan kaos gratis, CSR bisa jadi “Cara Serius Rakyat” untuk menagih keadilan sosial.
CSR Harusnya: “Cintaku Serius, Rakyat!”
Bayangin kalau semua perusahaan di Batu serius CSR-nya. Dana mereka bisa buat pelatihan tani organik, mendukung UMKM lokal, sampai bantu digitalisasi sekolah-sekolah kampung. Tapi ya itu tadi, perlu pengawasan. Jangan biarkan CSR dikuasai oleh kelompok elite berkerah yang hanya tahu rapat dan seminar sambil ngopi di hotel.
Pemerintah Kota juga jangan cuma bangga bikin perda. Perda itu kayak kompor: kalau gak dipakai ya tetap dingin. Biar panas dan masak nasi buat rakyat, butuh api—alias pengawasan dan penegakan!
Akhir Kata, Rek…
CSR bukan cuma soal perusahaan nyumbang, tapi soal tanggung jawab. Dan tanggung jawab tanpa pengawasan, ya kayak gado-gado tanpa bumbu—hambar, Mas!
Jadi, masyarakat Kota Batu: waktunya bangkit, ngawasi, dan jangan sungkan bertanya. Kalau ada yang aneh-aneh, tag aja di medsos, kasih tanda pagar: #CSRAsalJanganCumaSelfie.
Karena dalam republik rakyat ini, suara kita itu bukan bisik-bisik tetangga. Tapi toa demokrasi. Nyaring, lucu, tapi nendang!
Cimory Batu, sambil ngopi tubruk dan baca data CSR.
Gareng Petruk
Pakar Omelan Ringan, Dosen Tamu di Fakultas Kearifan Lokal
















