Jember – GarengPetruk.com
Suasana Alun-Alun Jember siang itu panas, bukan cuma karena matahari yang lagi semangat, tapi juga karena semangat Forkompinda, OPD, guru-guru, dan anak-anak sekolah yang datang pakai baju terbaik demi peringatan dua momen sakral sekaligus: Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Otonomi Daerah ke-29.
Tapi, siapa sangka? Di tengah khidmatnya upacara, Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait, malah lempar pernyataan yang bikin kening para pegawai berkerut dan para guru tepuk jidat ringan.

“Tolong ya, jangan terlalu sering upacara. Ambil yang penting-penting aja. Nanti seragam PNS bisa tipis karena sering dijemur,” kurang lebih begitu isi bisik-bisik Gus Fawait ke Sekda yang entah harus senyum atau pura-pura batuk.
Upacara Efisien, Tapi Janjinya Gede-Gedean
Meski mengajak efisiensi gaya militer (dikit-dikit baris), tapi urusan pendidikan, Gus Fawait all out! Mulai dari beasiswa untuk 20 ribu anak, biaya hidup Rp 500 ribu, sampai janji anggaran pendidikan terbesar sepanjang sejarah Jember, semua diluncurkan seperti peluru semangat dari podium.
“Masalah kemiskinan? Kuncinya pendidikan. Tapi jangan sampai murid libur, guru malah disuruh ngantor ngelamun,” ujar Gus dengan gaya khasnya yang setengah humor, setengah teguran.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa kalau guru dipersulit urus absensi, langsung lapor ke Wadul Gus’e, hotline keramat yang bisa bikin pejabat panik lebih dari ancaman SP1.

Kebijakan Super Santuy: Guru Libur Kalau Murid Libur
Dalam dunia pendidikan, Gus Fawait bukan cuma janjikan gedung baru atau pelatihan, tapi juga libur bareng! Bahkan saat sedang ikut retret (yang entah lebih banyak doa atau makan kacang), orang pertama yang dia panggil adalah Kepala Dinas Pendidikan. Bukan buat tanya kabar, tapi langsung bikin Surat Edaran: “Kalau murid libur, ya guru juga libur dong, masak iya disuruh jaga kelas kosong.”
Ini baru kepala daerah yang paham rasa! Guru bukan penjaga museum, Pak!
Filosofi Otonomi Daerah: “Dekat, Cepat, dan Tidak Banyak Fotokopi”
Selain pendidikan, Gus Fawait juga menyentil esensi Otonomi Daerah: pelayanan gak pakai muter-muter dan tidak bikin rakyat stress karena birokrasi panjang kayak jalan kenangan. “Kita punya Wadul Gus’e, jadi kalau pelayanan lambat, tinggal wadul, nanti saya gebuk… pakai aturan,” tegasnya.

Catatan GarengPetruk: Antara Upacara dan Aksi Nyata
Yah, betul juga sih kata Pak Bupati. Kadang kita ini terlalu rajin upacara tapi lupa apa maknanya. Tiap bulan hormat bendera, tapi pas liat bendera robek, pura-pura gak liat. Tiap tahun pidato pendidikan, tapi perpustakaan sekolah isinya buku zaman orde lama.
Jangan-jangan yang lebih penting dari berdiri tegak 45 menit, adalah berdiri untuk keadilan dan pendidikan yang merata.
Jadi, buat para guru, siswa, dan pegawai: jangan terlalu kecewa kalau upacara dikurangi. Mungkin nanti diganti dengan rapat daring sambil ngopi. Yang penting, anggarannya masuk, beasiswanya sampai, dan kita gak perlu rebutan kipas di tengah lapangan.
Salam Merdeka, tapi tetap hemat, dari Redaksi GarengPetruk.com.
Kalau masih pengin seremonial, ya bikin saja upacara di grup WA, toh sekarang semua bisa virtual!
















