SURABAYA – Kalau Surabaya ini ibarat tubuh, maka budayanya adalah jiwanya. Tapi celakanya, akhir-akhir ini jiwanya sering kesemutan, bahkan nyaris pensiun dini. Untunglah, di tengah geliat kota yang makin sibuk bikin mall dan flyover tapi lupa bikin ruang untuk mikir, nongol satu gerakan kecil tapi bergigi: Forum Pegiat Komunikasi Surabaya alias FPKS.
Diprakarsai oleh Jil Kalaran—yang entah apakah dia manusia biasa atau pahlawan super berkedok seniman—FPKS lahir bukan dari aplikasi startup atau anggaran APBD, tapi dari obrolan warung kopi yang berisi keresahan: “Surabaya iki budayane arep digowo ngendi, Rek?”
Saat Kota Butuh Vitamin Seni
Menurut Jil, kondisi kesenian di Surabaya ini seperti sinyal Wi-Fi di rumah kontrakan: kadang ada, kadang hilang, kadang ngambek. Gagasan baru susah muncul, ruang tampil sempit, dan seniman sering jadi korban ketidaksengajaan sistem. Kota industrialis katanya? Iya, industri iya, tapi budaya ketinggalan. Lha piye?
FPKS ingin jadi pemantik api unggun: kecil, tapi hangat dan bikin orang kumpul. Bukan buat bakar anggaran, tapi buat nyalakan semangat. Mereka percaya pada Budaya Rek—filosofi khas arek Suroboyo: guyub, gotong royong, dan ora nggrundel thok di grup WA tapi gak ngapa-ngapain.
Teras Dewan Kesenian: Dari Parkiran Jadi Panggung
Nah, hari Selasa, 13 Mei 2025, FPKS nggelar acara pertama: Sastra, Monolog, Musik. Lokasinya? Bukan ballroom hotel atau gedung VVIP, tapi… teras Dewan Kesenian Surabaya. Di situlah puisi dibacakan, monolog ditampilkan, dan musik dimainkan—semua dengan rasa semrawut yang syahdu.
Acara ini semacam demo masak budaya: semua bahan lokal, bumbu kritik sosial, disajikan hangat, dan yang nonton ikut kenyang batin. Temanya: “Surabaya Hari Ini. Sebuah Pertemuan Kecil untuk Langkah Besar dimulai Di Sini.” Coba bandingkan dengan jargon politik yang kadang besar di kata, nihil di makna.
Dari Pidato ke Denting Gitar
Kuncarsono Prasetyo ngisi pidato kebudayaan—bukan pidato sambutan yang bisa bikin orang ngantuk sambil scroll TikTok, tapi pidato yang bikin kening berkerut dan hati ngilu. Setelah itu, monolog dari Meimura dan Dody Yan Masfa—dua aktor yang lebih jujur daripada rating sinetron.

Lalu puisi berderet dibacakan, dari nama-nama yang kalau ditulis semua, panitia bisa kehabisan spidol. Alfian Bahri, Heti Palestina Yunani, sampai Widodo Basuki dan DR. Tengsoe Tjahjono. Dari kata-kata mereka, lahirlah potret kota ini yang kadang manis, kadang getir, tapi tetap menggugah.
Musiknya? Bukan dangdut remix, tapi B Jon, Prof. Rubi Castubi, Pardi Artin, dan kawan-kawan dari Poss Ensemble mengalunkan nada-nada yang lebih jujur daripada playlist Spotify kita.
Kritik Sosial, Tapi Pakai Irama
Acara ini bukan cuma panggung ekspresi, tapi juga ruang curhat kota. Di tengah huru-hara pembangunan yang sering lupa bahwa gedung tinggi butuh dasar budaya yang kokoh, FPKS datang ngingetin: “Hei, Surabaya! Kowe ki punya jiwa, jangan cuma aspal dan beton sing nguripi!”
FPKS bukan organisasi elite, bukan birokrat berdasi. Mereka adalah pejalan kaki kebudayaan yang tahu bahwa satu puisi bisa lebih menggetarkan dari sepuluh baliho caleg.
Penutup: Dari Teras ke Arah Terang
FPKS bukan cari viral, tapi vital. Bukan ingin trending, tapi mending. Biar orang-orang tahu, bahwa kesenian bukan sekadar hiburan—tapi napas. Bukan pelengkap seremoni, tapi denyut nadi kota yang hidup.
Mari kita dukung mereka. Bukan dengan tepuk tangan saja, tapi dengan hadir, dengan berkarya, dan tentu saja, dengan Budaya Rek—karena cuma budaya yang bisa bikin kota ini waras di tengah deru mesin dan euforia pembangunan.
Surabaya, 9-5-2025
Tertanda: Gareng & Petruk, yang kini belajar nulis berita dengan senyum miring dan pesan menusuk
















