NGANTANG – Bencana longsor yang menimpa Jalan Raya Wlingi – Blitar di Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, bukan cuma mengguncang tanah dan bambu, tapi juga menggoyang kesadaran: bahwa alam bisa ngambek kapan aja, apalagi kalau manusia terlalu sering ngelantur dan ngaku-ngaku deket sama alam, padahal deketnya cuma buat selfie.
Kejadian ini berlangsung Minggu (11/5/2025) siang, usai hujan deras yang mengguyur kawasan itu tanpa kompromi. Tebing di pinggir jalan nggak kuat nahan beban air, lalu jreng – longsor, bambu nyelonong, tanah jebluk, dan jalan raya jadi seperti panggung wayang yang ditiban gunung.
Alam Bersuara, Manusia Ngoyo
Menurut laporan dari BPBD Kabupaten Malang, lewat Pak Sadono Irawan yang menjabat sebagai Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (jabatan yang panjang kayak jalan tol, tapi tugasnya sepadan beratnya), hujan dengan intensitas sedang jadi biang kerok longsor. Nah, kalau hujan sedang saja bisa bikin longsor, bayangkan kalau hujannya marah!
“Meskipun tidak ada korban jiwa,” kata Pak Sadono dengan nada legawa tapi tetap formal, “arus lalu lintas sempat terganggu.”
Nah lo, jelas terganggu. Wong jalanannya ketutup bambu dan tanah. Masak iya mau dilewati pakai hoverboard?
Goro-goro Bambu dan Ekskavator
Untungnya, respon cepat dilakukan. BPBD, warga, dan alat berat turun tangan bareng-bareng. Katanya, satu unit excavator PC50 dan dua unit dump truck dikerahkan untuk angkut material longsor. Tapi tetep, yang paling penting adalah gotong royong warga — karena alat berat bisa kuat, tapi semangat warga lebih berat (dan lebih ngirit).
Yang unik, salah satu penghambat utama ternyata bukan batu atau tanah, tapi akar bambu yang nekad main sandiwara di tengah jalan. Bambu ini mungkin dulu ditanam untuk konservasi, tapi lupa diajarin sopan santun.
Sindiran Dari Dalam Tanah
Gareng dan Petruk cuma bisa geleng-geleng kepala. Ini bukan kali pertama tanah mengamuk, tapi masih juga kita hobi potong hutan, tebang bambu, bikin villa tanpa amdal, lalu pas longsor baru ngomel: “Ini bencana alam.” Padahal… ya sebagian juga bencana ketamakan.
Ngomong-ngomong, Desa Pagersari ini letaknya strategis tapi rentan. Kontur tanahnya miring kayak sikap kita pas disuruh jaga alam: pura-pura setuju, tapi tetap saja bikin bangunan di lereng.
Jalan Dibuka, Tapi Pikiran Harus Lebih Terbuka
Saat ini, jalan katanya sudah bisa dilewati – walau proses pembersihan masih jalan. Tapi yang lebih penting dari bisa dilewati adalah: apa kita mau lewat jalan lama terus? Jalan yang sama: membangun tanpa rencana, menanam tanpa peduli, dan menjaga cuma saat sudah celaka?
Warga sudah gotong royong. BPBD sudah kerja keras. Sekarang giliran pemangku kebijakan – tolong jangan jadi pemangku yang cuma duduk manis di kantor ber-AC. Mumpung belum ada korban, mending kita korbanin ego dan mulai bikin rencana yang berpihak pada keselamatan.
Penutup: Humor Tipis, Pesan Tiris
Longsor memang bukan hal lucu, tapi kalau kita tetap santai tanpa belajar dari peristiwa ini, itu baru lucu – lucu yang tragis. Karena alam sudah berkali-kali kirim kode, tapi manusia tetap hobi cuek, lebih peka ke notifikasi dari medsos daripada retakan di tebing belakang rumah.
Jadi, wahai warga, pejabat, dan calon pejabat yang lagi nyiapin baliho:
Yuk rawat bumi. Sebelum bumi ngerawat kita – dalam bentuk longsor.
Ngantang, 12-5-2025
Tertanda: Gareng & Petruk, yang kini jadi juru ketik tanah longsor dengan gaya kocak, tapi hati serius.
















