Suasana Gedung DPRD Kota Batu pada Rabu, 14 Mei 2025, mendadak sumringah tapi sumpek—karena audensi Yayasan Ujung Aspal (YUA) bareng Komisi B digelar. Topiknya serius: investasi, UMKM, transportasi, dan yang paling krusial—sertifikat lahan yang masih seperti jodoh tak direstui, alias sulit dicapai.
Asmadi, Ketua Komisi B, tampil kalem namun tajam. Beliau menyatakan,
> “Banyak yang mau investasi di Kota Batu, tapi mentok di sertifikat.”

Nah lho, para investor datang bawa duit, pulang bawa bingung. Kota wisata, tapi tanahnya kayak harta karun: bisa dilihat, tapi susah dimiliki!
Asmadi juga menyinggung pentingnya peran UMKM sebagai “pahlawan ekonomi lokal”. Tapi percuma juga kalau UMKM disuruh lari cepat, sementara jalannya masih berlubang, modal seret, dan pemimpinnya hasil undian.
Budi Purnama, yang kelihatannya habis minum kopi tubruk tiga cangkir, menyemangati audiens:
> “Revitalisasi UMKM itu harus dari akarnya!”
Waduh, jangan-jangan nanti UMKM disuruh ikut pelatihan bertani dulu? Tapi maksudnya bagus kok: perbaiki dari dasar biar UMKM kita nggak cuma jadi jago di bazar kelurahan.
Sujono Djoned, anggota DPRD yang gayanya mirip dosen ekonomi spiritual, mengingatkan:
> “Pendapatan daerah jangan sampai bocor, regulasi harus jelas!”
Iya, Pak, soalnya kalau pendapatan daerah terus bocor, bisa-bisa kita semua berenang di laut defisit.
Ketua YUA, Mas Alex, bawa suara rakyat pinggiran: potensi lokal dilupakan, pajak ogah dibayar, retribusi kayak mantan—nggak jelas ke mana arahnya.
> “Sistem hukum dan administrasi kita perlu detox, SDM-nya juga mesti upgrade.”
Bahasanya kayak seminar nasional, tapi isinya nyelekit dan bener. Jangan sampai pejabat lebih banyak ngatur jadwal dinas luar daripada ngurus UMKM lokal.
Totok dari Organda nyelutuk soal kemacetan Kota Batu.
> “Butuh rest area, Pak. Jangan sampai wisatawan stres duluan sebelum sampai Jatim Park!”
Bener juga. Kalau wisatawan parkirnya susah, bisa-bisa pulangnya cuma bawa amarah, bukan oleh-oleh.
Bambang Pramono, Sekretaris Komisi B, kasih contekan dari Kabupaten Klaten:
> “Di sana UMKM-nya bisa ngutang ke bank daerah dengan sistem yang rapi. Kita kudu niru!”
Masuk akal, daripada pelaku UMKM minjem duit ke rentenir yang bunganya lebih tajam dari silet. Bambang juga ingatkan: pemasaran, permodalan, dan SDM itu satu paket. Kalau cuma satu yang digenjot, hasilnya kayak mie tanpa bumbu—anyep.
Penutup penuh makna datang dari seluruh anggota DPRD:
Kerja sama adalah kunci. Tapi ingat, bukan kerja sama bagi-bagi proyek ya—tapi kerja sama buat rakyat!
Gareng Nyindir:
“Investasi boleh masuk, tapi jangan lupa yang di dalam belum kelar. Masa investor dari luar disambut, warga sendiri disuruh sabar?”
Petruk Menimpali:
“UMKM itu bukan kutu loncat. Kalau mau berkembang, ya disiram dan dijaga. Bukan dijadikan bahan foto saat kampanye doang!”
Kesimpulan ala GarengPetruk.com:
Audensi ini kayak nasi goreng spesial: isinya banyak, bumbunya lengkap, tapi gorengannya masih kurang rata. Yang penting, api semangat sudah nyala. Tinggal dijaga jangan sampai gosong.
Kalau semua serius, yang baca bisa stres. Tapi kalau dibikin santai, siapa tahu malah sampai ke hati.” – Petruk
















