BATU — Di kota yang hawanya sejuk dan kopinya kental ini, ada pemandangan unik yang bikin hati adem tapi juga mikir keras. Seorang seniman kaligrafi ikut nimbrung dalam Pameran Kaligrafi Nasional bertajuk Aksara Illahi di Graha Pancasila Amongtani (22/10/2025).

Tapi jangan salah, ini bukan pameran biasa yang isinya cuma gores-gores huruf Arab yang cakep. Ini pameran yang bikin orang mikir: “Eh, jangan-jangan selama ini aku cuma baca Qur’an tapi nggak pernah benar-benar ngerasain?” 😅

Nah, seniman yang satu ini — sebut saja Watonisay Pictolo — nggak mau kaligrafinya cuma jadi hiasan tembok. Ia malah ngajak Pictolo, Kuboe Sarawan, dan Kokot (yang namanya kayak merek sandal, tapi ternyata seniman juga) buat “nyulap” kalam Illahi jadi karya yang hidup dan bisa diajak ngobrol.
” Saya percaya Al Qur’an itu bukan cuma buat dibaca pas Ramadan aja, tapi buat dihidupkan tiap hari,”ujar Watonisay sambil ngerapiin pecinya, yang agak miring ke kanan tapi tetap berwibawa.

Watonisay percaya setiap orang punya “jalannya sendiri” buat memahami Al Qur’an. Mau lewat seni, kopi, atau bahkan TikTok, asal tujuannya tetap: ngidupin makna Ilahi dalam hidup sehari-hari.
Konsepnya disebut “The Power of Al Qur’an” — bukan kayak slogan iklan sabun cuci, tapi betulan power yang bisa nyetrum hati dan pikiran. Lewat goresan tinta, garis melengkung, dan titik-titik indah itu, pesan Allah jadi terasa lebih dekat, bahkan buat orang yang biasanya cuma kuat baca “Alif Lam Mim” lalu nyerah. 😅
” Pameran Aksara Illahi ini bukan cuma soal indahnya huruf, tapi juga indahnya hati yang ngerti makna di balik huruf itu,” tambah Watonisay dengan nada bijak.
Para pengunjung yang datang pun banyak yang bengong—antara kagum dan bingung. Ada yang nyeletuk, “Lha, ini kaligrafi atau lukisan abstrak, Mas?”
Watonisay cuma senyum kalem: “Keduanya. Tapi yang penting hatimu ikut nulis juga.” 🖋️✨
Yang menarik, pameran ini juga nyediain karya-karya kaligrafi kontemporer dan digital. Bayangin aja, ayat suci dipadu efek visual kayak game—tapi tetap syahdu, bukan norak.
Pokoknya ini pameran yang bikin orang sadar, bahwa Al Qur’an itu nggak cuma dibaca di masjid, tapi juga bisa dihidupkan di ruang galeri, di hati, bahkan di status WhatsApp.
” Kaligrafi itu bukan cuma soal keindahan huruf, tapi tentang gimana huruf itu bisa nyentuh nurani,”
pungkas Watonisay sambil nyeruput teh hangat, tatapannya dalam menembus langit Batu yang mendung sendu. 🌧️
Dan di luar galeri, ada pengunjung nyeletuk lirih sambil ngelus dada,
” Ternyata ayat-ayat Allah itu bukan buat ditulis doang ya… tapi buat dijalani.”
Eh, ujug-ujug temennya nyeletuk,
” Iya, tapi tetep… nulisnya yang bagus dulu, biar Allah juga seneng ngelihatnya.”
Lha iya juga. Di antara tawa dan renungan, pameran Aksara Illahi di Batu ini ternyata berhasil: bikin orang nggak cuma
mikir soal seni, tapi juga soal hati. ❤️
















