Jember, GarengPetruk.com – Minggu, 20 Juli 2025, Jember mendadak jadi catwalk kebangsaan. Bukan untuk fashion week atau lomba selfie, tapi untuk Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme—sebuah acara yang nyaris tak bisa dibedakan antara perayaan budaya dan launching sinetron baru.
Diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dengan sokongan penuh dari Bakesbangpol dan Dinas Pariwisata, acara ini sukses menggiring lebih dari 5.000 peserta dari berbagai etnis, suku, profesi, dan tentu saja, para pejabat yang senyum formalnya sudah setara logo kementerian: harus selalu ada meskipun kita nggak ngerti fungsinya apa.
Parade Jas, Senyum Tipis, dan Tatapan Kosong Berisi Anggaran
Barisan tamu kehormatan tak kalah meriah dari kirabnya sendiri. Bupati, Ketua DPRD, Forkopimda, Kepala OPD, sampai Camat-camat se-Jember hadir kompak. Jas rapi, senyum setengah paksa, dan gaya jalan yang seolah berkata, “Saya ikut hadir loh ya, tolong tag saya di IG resminya.”
Satu yang menarik: ekspresi mereka hampir seragam—antara lelah nunggu acara puncak atau sibuk menghitung durasi sebelum prasmanan dibuka. Tentu, ini hanya dugaan rakyat. Tapi seperti kata pepatah rakyat jelata: “Pejabat yang baik adalah pejabat yang hadir… lalu pulang setelah makan.”
Kirab Pusaka: Antara Tarian Tradisional dan Audisi Putri Indonesia
Kirab Pusaka Nusantara menjadi highlight yang berhasil memukau penonton sekaligus membuat tukang parkir kewalahan. Dari etnis Madura sampai Batak, dari Papua sampai Arab–semuanya tampil dalam parade kostum adat penuh warna. Setiap kelompok etnis tampil semangat, lengkap dengan tatapan tajam dan langkah mantap, seperti bilang, “Lihat ya, pluralisme itu kami… bukan kalian yang debat di medsos tiap hari!”
Namun, seperti biasa, yang nonton lebih sibuk ngerekam buat konten TikTok daripada menghayati maknanya. Bahkan, ada yang bilang ini lebih rame dari konser dangdut malam takbiran.
Sedekah Bumi: Doa Syukur, Gosip Cabai, dan Sampah yang Tertinggal
Di tengah hiruk pikuk, terselip momen khidmat lewat prosesi Sedekah Bumi. Masyarakat berdoa bersama, menyampaikan rasa syukur atas berkah alam. Tapi karena ini budaya rakyat, suasana doa kadang diselingi guyonan soal harga sembako dan keluhan soal panci hilang di dapur umum.
Lucunya, setelah acara selesai, bumi yang tadinya disedekahi malah dibalas tumpukan plastik bekas air mineral. Alam pun hanya bisa mengelus akar. Tapi ya sudahlah, niatnya bagus, semoga Tuhan fokus ke doanya, bukan ke gelas plastiknya.

Pluralisme: Pesta Rakyat, Panggung Pejabat
Satu hal yang pasti, acara ini sukses jadi reuni akbar nasionalisme. Dari anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu pengajian, sampai stand up comedian lokal ikut meramaikan. Yang penting hadir, nampang, dan update story.
Apel kebangsaan ini mengingatkan kita: pluralisme itu seperti pesta rakyat—ramai, penuh warna, kadang ricuh, tapi menyenangkan. Ada yang datang untuk tampil, ada yang datang demi nasi kotak. Tapi di situlah keindahannya: semua beda tapi tetap satu panggung.
Bhinneka Tunggal Ika, katanya. Tapi di lapangan, kadang lebih terasa: Bhinneka, Tapi Tak Satu Sambal. Tiap daerah punya rasa, tapi satu meja tetap bisa makan bareng.
GarengPetruk.com – dari rakyat, oleh rakyat, buat rakyat yang melek makna, tapi masih bisa ketawa.
















