Geger seantero dunia digital! CNBC Indonesia baru saja merilis berita berjudul: “ChatGPT Suka Ngarang Sendiri, Penciptanya Bingung Banyak yang Percaya.” (8 Juli 2025)
Lha kok, yang jawab bukan netizen +62, tapi Dr. Isroil Samihardjo, seorang dosen, pakar intelijen, mantan pejabat BIN, dan orang pinter yang ilmunya nyampai dari hulu nuklir sampai hilir kimia. Di kalangan mahasiswa, beliau akrab disapa: Eyang Isro — bukan karena sepuh, tapi karena sepuhnya penuh ilmu dan ide cemerlang!
“ChatGPT Ngarang? Yo Wajar…”
Eyang Isro menanggapi isu halusinasi ChatGPT alias suka ngarang dengan tenang, “Lha manusia aja sering ngarang, masak AI gak boleh?”
Menurut beliau, halusinasi itu bukan dosa, asal kitanya gak males mikir dan mau cek ulang. Namanya juga mesin, bukan dukun. Tapi manfaatnya? Jauh lebih gede dibanding kesalahannya.
Enam Manfaat ChatGPT Versi Eyang Isro (Yang Lebih Berguna dari Mantanmu):
1. Refleksi Diri & Kejernihan Pikiran
→ ChatGPT bisa bantu menyusun ide acak-acakan jadi rapi, kayak ngerapiin kamar kos pas mau ditengok ibu kos.
2. Pengirit Waktu Nasional
→ Nggak usah ngopi 3 jam dulu baru nulis. Pakai ChatGPT, langsung tjak-plek jadi!
3. Teman Diskusi yang Tidak Nyinyir
→ Mau ngobrol panjang, pendek, rumit, atau ngawur? Dia layani semua… tanpa baper.
4. Pengetahuan Global, Pikiran Lokal
→ Bikin kita ngerasa lagi kuliah di Harvard, padahal nyicil kuota di warkop.
5. Pemantik Ide Gila (yang Gak Gila-gila Amat)
→ Banyak ide-ide brilian nongol karena diskusi sama si AI.
6. Asisten Multi-Tugas yang Gak Pernah Minta THR
→ Bantu kerja, bantu mikir, bantu nulis. Tapi nggak minta gaji. Coba kalau mantan begitu…
Dari Senjata Biologi ke Kecerdasan Buatan
Meski ahli nuklir, biologi, dan kimia, Eyang Isro bukan anti teknologi. Beliau bahkan mengandalkan ChatGPT untuk menyusun:
Analisis foresight,
Perencanaan skenario strategis,
Prediksi dan estimasi masa depan.
Tapi tentu saja, beliau nggak gelap mata. ChatGPT masih punya kelemahan: belum bisa milih variabel kompleks dan multidisipliner. Kayak anak magang yang pinter, tapi belum tahu mana bos mana OB.
Analisis Terorisme: Jangan Cuma Lihat JI!
Kritik tajam dilayangkan Eyang Isro ke para analis yang cuma fokus ke pelaku. Padahal, terorisme zaman now bisa datang dari mana saja: negara, individu, organisasi, bahkan dari daleman pikiran yang frustrasi.
Lha, kelompok JI bubar terus seneng? Padahal bisa muncul “lone wolf” yang lebih serem, karena jalannya diem-diem kayak mantan nyimpen chat lama.
Mahasiswa WAJIB Pakai ChatGPT
Yup, kamu nggak salah baca: mahasiswa justru diwajibkan pakai ChatGPT buat ngerjain tugas. Tapi bukan buat nyontek ya, buat mikir dan eksplorasi ide.
Menurut Eyang Isro:
“ChatGPT itu alat bantu, bukan dukun sakti. Yang mikir tetap kamu!”
Feedback ke OpenAI, Dibalas Langsung!
Eyang Isro juga ngirim email resmi ke OpenAI berisi kritik dan saran. Isinya keren-keren:
Tambahin timestamp biar tahu kapan ide muncul.
Bikin threaded reply, jadi diskusi nggak kayak chat mantan yang hilang ditelan waktu.
Tambah mode refleksi, biar bisa jadi catatan intelektual jangka panjang.
Balasan dari OpenAI?
“Your input is truly appreciated…”
Tuh kan, Eyang Isro aja didengerin. Kamu kapan?
Akhir Kata dari Eyang:
“ChatGPT tidak sempurna, tapi kalau digunakan dengan cara yang benar, dia bisa menjadi mitra kerja yang mempercepat, memperkaya, dan menjaga ritme kerja sehari-hari.”
Gareng Bilang:
“Kamu aja bisa salah, masak robot gak boleh? Yang penting jangan keheranan, jangan mudah percaya, dan harus tetep mikir kritis. Kalau ChatGPT bisa nulis puisi, kamu harus bisa mikir waras!”
















