BOGOR — Hari Minggu biasanya buat healing, tapi kali ini mahasiswa dari Universitas Madani Nusantara lebih milih ngadem bareng nilai-nilai kebangsaan. Bertempat di Desa Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, mereka hadir dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar oleh Anggota DPR/MPR RI Dr. H. Mulyadi, MMA.
Suasana aula penuh, bukan karena konser dadakan atau bazar cilok, tapi karena 150 peserta dari kalangan mahasiswa, tokoh masyarakat, dan pemuda serius menyimak tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Empat Pilar, Bukan Empat Filter
Dalam pemaparannya, Mulyadi yang kini duduk di Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra menjelaskan bahwa Empat Pilar bukan sekadar hafalan buat upacara, tapi fondasi kehidupan berbangsa.
“Indonesia ini negara besar, tapi juga gampang goyah kalau nilai-nilai kebangsaan kita longgar,” ujarnya.
“Kalau anak muda cuma sibuk debat di medsos tanpa pegangan ideologi, ya gampang banget dipecah oleh isu-isu identitas.”
Diskusi Bukan Ceramah, Interaktif Bukan Sekadar Formalitas
Acara ini bukan model ceramah satu arah yang bikin ngantuk, tapi diselingi diskusi interaktif. Mahasiswa bebas tanya, bahkan ada yang debat soal implementasi Bhinneka Tunggal Ika di era clickbait.
Salah satu peserta, Ikhsan, mengaku tercerahkan:
“Biasanya Pancasila itu terasa teoritis. Tapi kali ini saya jadi paham bagaimana mengamalkannya di kehidupan nyata. Ternyata gak cuma dibaca di dinding kelas, tapi harus hidup di tindakan.”

Hadirin Beragam, Buktikan Bhineka Itu Nyata
Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti:
H. Ricky Kurniawan, LC (Anggota DPRD Jawa Barat)
H. Heri Aristandi, ST (Anggota DPRD Kabupaten Bogor)
Kol (Purn) Drs. H. M. Endang Sudrajat, M.Si selaku pembawa materi.
Jadi, yang hadir bukan cuma mahasiswa, tapi juga politisi, veteran, dan pegiat masyarakat, lengkap seperti isi bubur ayam: kalau dimakan bareng, rasanya mantap.
OPINI GARENG-PETRUK:
“Empat Pilar Itu Bukan Benda Pusaka, Tapi Harus Diperbaharui di Hati dan Tindakan”
Gareng dan Petruk menyimak sambil geleng-geleng. Banyak anak muda hari ini bisa hafal nama-nama pemain drama Korea, tapi kelabakan waktu ditanya sila keempat.
Kata Gareng: “Kalau kita gak ngerti Pancasila, nanti giliran negara butuh kita, kita malah sibuk nonton live TikTok jualan batu akik.”
Kata Petruk: “Bhinneka itu bukan cuma soal beda agama dan suku, tapi juga beda selera politik—yang penting gak nyinyir dan gak nyinyir balasan.”
Sosialisasi semacam ini penting banget. Tapi jangan cuma berhenti di aula. Pancasila harus hidup di jalan, di kantor, di kampus, bahkan di kolom komentar. Karena yang bikin negara kuat bukan slogan, tapi tindakan.
Kalau generasi muda sadar dan paham empat pilar, negara ini gak akan goyah walau digoyang drama politik dan sinyal 4G.
Harian Nasional Gareng Petruk
– Menyentuh Nalar, Menyegarkan Pikiran, Menertawakan yang Tak Perlu Disakralkan –
















