Jember, Gareng Petruk News – 21 Juni 2025
Gareng (sambil ngopi hitam pekat):
Petruk… sekolah zaman sekarang beda! Kalau dulu ujian itu soal matematika dan PKN, sekarang murid bisa unjuk karya budaya dan pamer kripik bayam. Hebat bener!
Petruk (senyum-senyum):
Benar Kang, Waskita Panji 2025 di SMPN 1 Panti bukan cuma acara biasa, tapi festival pendidikan plus budaya yang bikin tamu-tamu kehormatan garuk-garuk kepala… karena kagum, bukan ketombean.

Belajar Tak Lagi di Dalam Kelas, Tapi di Panggung Rakyat
Waskita Panji tahun ini jadi ajang pameran hasil belajar siswa kelas VII dan VIII SMPN 1 Panti. Bukan sekadar tugas ditempel di dinding, tapi hasil nyata yang dipertontonkan di depan para petinggi, dari Kadis Pendidikan Pak Hadi Mulyono, Kabid SMP Pak Tulus, Muspika Kecamatan, Polsek dan Koramil Panti, sampai tokoh masyarakat dan para wali murid.
Semua hadir. Bukan untuk melihat upacara bendera, tapi untuk menyaksikan anak-anak mengenakan pakaian adat, memamerkan karya, dan tampil dengan penuh percaya diri.
Bu Astutik, Kepala Sekolah SMPN 1 Panti berkata:
“Kegiatan ini bukan hanya perayaan akhir tahun, tapi juga bentuk pembentukan karakter siswa sesuai nilai-nilai Pancasila.”
Gareng (berkomentar ringan):
Ternyata, belajar itu nggak harus duduk diam di kelas. Kadang butuh berdiri di panggung, memakai baju adat, sambil menjelaskan manfaat daun bayam dan cara bikin minuman rempah. Ini baru Pancasila level dewa!

Dari Kripik Bayam ke Tanaman Hias, Hasil Belajar yang Bisa Dicicipi
Pameran ini menyuguhkan beragam karya siswa:
Minuman tradisional (segar, menyehatkan, dan katanya bisa ngusir mantan… eh, masuk angin maksudnya)
Kripik bayam (garing, gurih, dan siap ekspor kalau Pak Menteri mau beli)
Tanaman hias (bukan janda bolong doang, tapi juga harapan masa depan yang menghijau)
Kadis Pendidikan dan Kabid SMP terlihat antusias, bahkan beberapa wali murid sempat nanya, “Ini bisa dibeli, Bu?”
Nah, kalau sekolah bisa bikin pasar mini, siapa bilang belajar tak menghasilkan?
Talenta Anak Negeri, Bukan Hanya Konten TikTok
Bukan Waskita Panji namanya kalau tanpa seni. Di panggung tampil siswa-siswi dengan:
Tilawatil Qur’an – lantunan merdu penuh kedamaian
Paduan suara – nyanyi bareng tanpa fals
Drama – tentang perjuangan dan kebhinekaan
Wayang kulit – ditampilkan bukan oleh dalang senior, tapi oleh generasi Z yang mulai mencintai warisan leluhur
Bu Astutik kembali menyampaikan:
“Harapan kami, siswa-siswi mengenal budaya Indonesia, khususnya budaya lokal Jember. Karena mencintai tanah air dimulai dari mengenal dan melestarikan budayanya.”
Petruk (senyum bangga):
Bukan hanya pintar ngerjain soal pilihan ganda, tapi juga pintar nyanyi, nembang, dan nampil. Ini baru generasi emas!
Pesan Moral ala Gareng Petruk
Gareng (sambil melirik langit-langit sekolah):
Negeri ini butuh lebih banyak acara seperti ini. Di saat televisi sibuk menayangkan debat politik dan acara receh, SMPN 1 Panti justru menyuguhkan kripik bayam dan tilawah. Lebih bergizi!
Petruk (sambil mengangguk):
Kalau generasi muda sudah bisa mencintai budaya dan berani menampilkan karya, itu artinya pendidikan berjalan ke arah yang benar. Tinggal kita semua, orang tua dan pemimpin, mendukung. Jangan hanya datang saat peresmian, lalu hilang seperti sinyal di pedalaman.
Sekolah Hebat Bukan yang Mewah, Tapi yang Menghidupkan Nilai
Waskita Panji 2025 bukan sekadar acara akhir tahun. Ia adalah cermin bahwa pendidikan yang baik tak melulu soal angka di rapor, tapi juga soal semangat, budaya, kreativitas, dan karakter.
Gareng dan Petruk menyimpulkan:
“Kalau anak-anak SMP bisa menghasilkan karya, mengenakan budaya, dan menampilkan bakat, mengapa para pejabat tidak belajar juga dari semangat mereka?”
#WaskitaPanji2025 #SMPNPantiHebat #BudayaUntukBangsa #KripikBayamMendunia #GarengPetrukNews
















