JEMBER, RAMBIGUNDAM –
Dikira suara hujan yang romantis kayak di film Korea? Ternyata air sungai naik pangkat, meluber ke rumah warga.
Bukan air mata rindu, tapi air kiriman dari langit plus limbah darat, sukses bikin warga Rambigundam nggak bisa tidur sambil selonjoran.
Kejadian ini bukan sinetron, tapi beneran tayang live Senin malam (10/6/2025), tepatnya jam 23.30 WIB, di Dusun Krajan Kidul, RT 01/02 RW 17, Desa Rambigundam, Rambipuji, Kabupaten Jember.
—
🌧️ Hujan Turun, Sungai Ngambek, Warung Ikut Salah
Hujan mulai sejak sore, sekitar pukul 16.30 WIB. Air sungai yang sudah dangkal, sempit, dan penuh sampah akhirnya bilang,
> “Maaf warga, saya numpang lewat ke ruang tamu ya…”
Dan terjadilah bencana mini:
Air masuk rumah.
Jalanan berubah jadi kolam.
Warung-warung berdiri cantik di atas sungai, tapi fungsinya malah kayak penyumbat saluran air.
Sungai? Tingginya udah ngalahin harga cabai pas puasa.
—
🧍🏽♂️ Imam: “Rumah Saya Langganan Air, Tapi Gak Dapat Diskon”
Imam, warga RT 01, cerita sambil cebur-ceburan kecil:
> “Dulu sungai lebar, sekarang makin sempit. Udah dangkal pula. Ironis, pemukiman lebih rendah dari sungai. Gimana mau buang air?”
Ia menambahkan, setiap hujan, rumahnya selalu kemasukan air.
> “Bukan rezeki nomplok, ini rezeki basah-basahan,” kata Imam sambil senyum kecut.
—
🚿 Iwan: “Mau Ngadu Takut, Gak Ngadu Makin Terendam”
Warga lain, Iwan, dari RT 02, juga pusing kepala.
> “Kami warga kecil bingung mau sambat ke mana. Mau laporan, takut disalahkan. Mau diam, air tambah masuk.”
Setiap hujan atau sungai meluap, rumahnya udah kayak kolam renang tanpa pelatih.
> “Pemukiman ini kayak tempat latihan survival. Bertahan di antara genangan dan ketidakpastian,” sindirnya tajam.

—
🧓 RW Sugianto: “Sampah, Warung, dan Sungai Sempit: Tragedi Tiga Serangkai”
Pak RW Sugianto juga gak tinggal diam.
> “Kami sudah sering usul ke pihak terkait. Tapi tiap kali hujan, air tetap nyelonong ke rumah warga.”
Masalah utama?
1. Sampah nyangkut di bawah warung.
2. Sungai makin sempit dan dangkal.
3. Warung permanen bikin susah bersih-bersih.
> “Kalau bisa, warung-warung ditinggikan. Sungainya dikeruk. Jangan cuma keruk APBD, keruk juga dasar sungai!” tegas beliau.

—
💡 Gareng & Petruk Bilang…
Gareng:
> “Air sungai ini kayak cinta lama yang datang tiba-tiba. Tapi bukan bikin bahagia, malah bikin was-was.”
Petruk nimpalin:
> “Sungai yang dulu lebar sekarang sempit, kayak hati orang yang pernah disakiti. Tapi bedanya, ini nyusahin warga satu RW!”
Mereka sepakat, ini bukan cuma soal cuaca. Tapi juga soal:
Perencanaan wilayah.
Edukasi buang sampah.
Tanggung jawab pemerintah lokal.
—
🧘 Penutup Puitis tapi Nyentil:
> “Sungai itu bukan tempat sampah, tapi nadi alam yang harus dijaga.
Jika ia tersumbat, bukan cuma air yang murka, tapi juga hidup warga jadi derita.”
Mungkin sudah saatnya, bukan cuma warga yang “tergenang”,
tapi juga hati para pejabat “tergerak”.
—
🗞️ Laporan dari pinggir genangan: Wito & Tim Redaksi Jember
🌊 GarengPetruk.com – Karena Berita Gak Harus Kering dan Kaku
—
#JemberKebanjiran #SungaiNaikPanggung #WarungNyumbatAir #GarengPetrukNewsj
















