Kota Batu, 4 Juni 2025 —
Di tengah udara sejuk pegunungan, ternyata tensi masyarakat Kota Batu justru naik drastis. Bukan karena harga cabai atau mantan yang nikah mendadak, tapi karena dua “penyakit elite” yang makin tenar: hipertensi dan diabetes. Tapi tenang, Pemerintah Kota Batu tidak tinggal diam. Mereka tak cuma berdzikir di balik meja dinas, tapi turun langsung ke lapangan, bahkan ke masjid—tempat paling suci dan strategis untuk memantau denyut nadi umat.
Dipimpin oleh sang “Kapten Kesehatan Batu,” Aditya Prasojo, Dinas Kesehatan mulai tancap gas. Bukan ngegas karena ditanya wartawan, tapi gas pol dalam melakukan screening massal dan sosialisasi kesehatan. Tempat pertama yang diserbu? Masjid Ja’mi Al Muttaqien, Kelurahan Temas. Katanya, biar sehatnya dunia akhirat.
> “Kami nggak mau sosialisasi ini jadi kayak khutbah Jumat: ramai di awal, ngantuk di tengah, lupa di akhir,” ujar Aditya sambil membagikan brosur yang isinya bukan undangan nikah, tapi tips hidup sehat.
Walikota Nurochman, yang hadir langsung bersama wakilnya Heli Suyanto, juga tak mau kalah. Ia tampil bersahaja, menyampaikan pesan bijak soal pentingnya menjaga pola makan dan rajin bergerak. Tapi jangan salah paham, gerak yang dimaksud bukan hanya scroll TikTok sambil rebahan.
> “Di usia lanjut, hipertensi dan diabetes itu seperti mantan: suka datang diam-diam, bikin nyesek, dan susah dilupakan,” ujar Walikota, disambut tawa dan batuk kecil para lansia.
Data Kesehatan?
Jangan kaget. Tahun lalu, tercatat 5.433 penderita hipertensi dan 4.220 penderita diabetes. Itu belum termasuk yang belum sadar dirinya ‘manis-manis mematikan’.
Susana Indawati, Kepala Bidang Pencegahan & Pengendalian Penyakit, menyebut angka itu sebagai “tamparan sayang” dari data untuk membuat semua pihak bangun dari tidur panjang.
> “Kalau terus dibiarkan, kita bukan menuju Indonesia Emas 2045, tapi Indonesia Encok dan Emosi,” sindir Susana sambil menunjukkan grafik yang bikin nyali turun duluan sebelum tensi.
Program ini katanya bukan seremonial semata. Bukan seperti pemotongan pita atau pencitraan ala TikTok. Tapi langkah “jemput bola”, bukan “lempar wacana”.
Mulai dari cek gula darah, tensi, sampai edukasi gaya hidup sehat, semua disodorkan ke warga. Bahkan kata rumor, ada undian kecil-kecilan: yang tensinya normal dapat pelukan dari bidan. Yang gula darahnya normal? Dapat bonus… senyuman penuh arti!
—
Sindiran Gareng:
> “Lucu ya, di negeri ini, pemeriksaan gula makin rutin, tapi janji-janji politik makin manis dan tak pernah dicek kadarnya.”
> “Hipertensi bisa dicegah, diabetes bisa dikendalikan. Tapi kalau ‘overdosis janji pembangunan’—itu susah disembuhkan, apalagi kalau sudah kronis.”
> “Tapi salut, Kota Batu bukan cuma ngurus taman bunga dan apel, tapi juga mulai serius ngurus yang paling dasar: kesehatan warganya. Lanjutno, asal jangan cuma pas kamera nyala!”
—
Penutup dari Petruk:
Semoga program ini nggak cuma jadi pengisi berita dinas, tapi betul-betul nyambung ke jantung masyarakat. Karena apa arti pembangunan kalau warganya mendadak pingsan waktu antre BPJS?
Salam sehat, salam ngopi tanpa gula. Ingat, yang manis itu cuma kenangan, bukan takaran tehmu.
—
🩺 Redaksi GarengPetruk.com: Portal Satir, Sindir, tapi Sabar.
✍️ Penulis: Eko “Cek Gula Dulu, Ndoro!” Windarto















