Waduh, Kang Dedi Mulyadi baru aja bikin wacana barak buat anak sekolah yang pada keblinger, eh, langsung kena semprit dari Komnas HAM. Katanya, itu melanggar hak asasi manusia. Lah iya sih, kalau di baraknya disuruh makan batu dan minum keringat, ya jangan. Tapi kalau cuma dididik disiplin, bangun pagi, cuci piring sendiri, nggak bawa HP, terus belajar gotong royong, itu sih bukan pelanggaran HAM—itu pelajaran hidup, Bos!
Coba kita tengok dulu, siapa yang nolak? Komnas HAM! Lembaga yang keberadaannya kayak sinyal di pedalaman: katanya penting, tapi pas dicari, “Maaf jaringan tidak tersedia.”
Gareng nanya nih, dengan segala hormat dan tawa: Komnas HAM itu udah ngapain aja buat anak-anak yang tiap hari disiksa sama sistem pendidikan yang ngebosenin? Yang tiap pagi berangkat sekolah bawa beban lebih berat dari karung beras, pulang sore kayak habis ronda, terus dihajar PR lima mata pelajaran. Itu hak anak buat bahagia di mana, Mas?
Atau anak-anak yang jadi korban bullying bertahun-tahun, tapi sekolah tutup mata, orang tua bingung, dan Komnas HAM? Yah… mungkin lagi rapat bahas kopi paling ramah HAM.
Kang Dedi emang suka nyentrik, tapi idenya soal barak itu bukan buat nyiksa anak. Itu usaha terakhir buat anak-anak yang udah kelewat liar, yang ortunya nyerah, dan sekolah udah angkat tangan. Lah, kalau bukan negara yang turun tangan, terus siapa? Naruto?
Tapi entah kenapa, setiap ada usaha kreatif buat mendidik dengan cara yang tegas tapi mendidik, langsung muncul suara, “Itu melanggar HAM!” Lah, ngelawan guru, ngatain orang tua, ngelem di pinggir jalan—itu bukan pelanggaran HAM? Apa karena yang dilanggar bukan pasal, tapi akal sehat?
Gareng bukan bela siapa-siapa. Tapi kadang, kita ini lebih takut dibilang melanggar HAM daripada takut anak-anak tumbuh tanpa arah. Komnas HAM mestinya turun ke lapangan, lihat kondisi sekolah, ngobrol sama guru dan orang tua, jangan cuma duduk di kantor sambil ngutip pasal.
Sekali-kali, coba Komnas HAM ikut nginep di barak versi Kang Dedi, biar tahu rasanya hidup tanpa AC dan Wi-Fi, tidur di tikar, bangun subuh, terus kerja bakti. Itu bukan siksaan, itu pengingat: hidup itu keras, bukan cuma soal hak, tapi juga kewajiban dan tanggung jawab.
Jadi, wahai Komnas HAM yang terhormat dan terhormat sekali, rakyat butuh kalian bukan cuma sebagai pasal berjalan, tapi sebagai sahabat yang hadir saat bingung antara hak dan arah. Jangan cuma jago bilang “tidak”, coba juga sesekali bilang “ayo kita bantu cari jalan tengah”.
Karena kalau Komnas HAM cuma muncul buat nolak ide-ide yang out of the box tapi diem aja soal kekerasan struktural yang udah jadi rutinitas, ya… maaf, kalian bukan penjaga HAM, tapi penjaga perasaan pasal-pasal usang.
Salam dari Gareng, yang kalau salah mohon dikritik, tapi kalau bener ya jangan pura-pura budeg!
Tertanda, Petruk – Sarjana Kehidupan, Alumni Barak Kehidupan Asli, Lulus dengan Predikat “Cukup Waras”

















Keliru metode dan terlambat mendidikkan etika, kedisiplinan, ketekunan semasa masih anak-anak, bisa jadi di saat mereka beranjak remaja akan salah jalan, salah orientasi hidup, dan salah pilih figure yang mau dianut. Jika remaja tersebut bermasalah, sangat susah mengikuti aturan yang benar di rumah, di sekolah, ataupun di lingkungan masyarakat, maka sudah waktunya mereka butuh ‘pendidik khusus’ yang memberikan pembinaan intensif secara bertahap. Tentu saja butuh kolaborasi proporsional antara kepala keluarga (atau pengampu), dinas pendidikan setempat, konsultan psikologi pendidikan, dan TNI/Polri. Sistem, mekanisme dan program pembinaan yang tepat perlu dibuat sebagai acuan baku untuk mencapai tujuan / hasil signifikan.
Terima Kasih Masukannya Lur