Klaten, Negeri Sumbu Pendek – Senin sore di Jalan Raya Wonosari mendadak berubah bukan jadi arena balap MotoGP, tapi lebih mirip sirkus brong-brongan. Puluhan anak sekolah, lengkap dengan seragam coret-coretnya, konvoi sambil menggeber motor bagaikan sedang audisi soundtrack film Transformer.
Suara knalpot brong mereka bukan cuma membelah angin, tapi juga membelah kesabaran warga. “Wes kayak perang, Mas. Telingaku sampe ngeluh,” ujar Bu Marni, warga setempat, sambil menutup telinga pakai tutup panci.

Polisi yang dari tadi ngintip dari balik pos, akhirnya turun tangan. Tapi alih-alih tabrakan argumentasi, yang ada malah anak-anak itu bubar jalan—bahkan sebagian sempat lari ke sawah. Mungkin pikir mereka, kalau tidak bisa jadi pelajar teladan, minimal bisa jadi scout ninja.
Kapolsek setempat sebenarnya sudah kasih wejangan jauh-jauh hari: “Rayakan kelulusan secara positif.” Tapi kayaknya wejangan itu tenggelam di antara suara brong dan semprotan pilox.
Sindiran Ringan Tapi Dalem ala Gareng Petruk:
Lulus sekolah itu penting. Tapi lebih penting lagi lulus jadi manusia. Mosok habis belajar bertahun-tahun, hasil akhirnya malah konvoi ngamuk-ngamuk di jalan raya?
Knalpot brong itu bukan simbol kebebasan. Itu simbol kebisingan. Kalau mau bikin bangga orang tua, ya jangan bikin mereka harus cari anaknya ke kantor polisi atau sawah.
Dan orang tua, eh, ojo mung selfie pas wisuda. Tapi ngawasi juga anaknya pas habis wisuda. Soalnya kelulusan itu bukan akhir, tapi awal… awal dari drama kehidupan, yang kalau nggak dipandu, bisa berakhir di TikTok atau Tikungan.
Pesan Penutup:
Gareng Petruk tidak melarang konvoi. Tapi kalau konvoi isinya geber-geber tanpa arah, itu bukan selebrasi, tapi deklarasi kebisingan. Luluslah dengan bahagia, bukan dengan marah-marahin gas motor. Sebab yang harus digeber itu semangat hidup, bukan knalpot tidak bersertifikat SNI.
(Dilaporkan oleh Eko Setyo Atmojo. dari balik helm penuh cinta – Redaksi GarengPetruk.com)
















