Jember, GarengPetruk.com – Hawa panas di Jember bukan cuma gara-gara kemarau, Sob. Tapi juga gegara kursi ketua ASKAB PSSI Jember yang lagi open seat, eh maksudnya open name tapi cuma satu yang nongol. Iya bener, satu doang! Ini Musda apa nobar sinetron tunggal?
Tanggal 3 Mei 2025 nanti, Jember nggak cuma nonton bola, tapi juga nonton “pertunjukan politik sepakbola” yang seru dan penuh plot twist. Tapi ya, jangan berharap banyak aksi saling jegal, karena kayaknya yang maju udah pasti menang. Lah gimana, lawannya kagak ada, Bos!
“Abang Dekat, Abang Dapat”
Nama yang muncul? Abdullah Waid. Bukan tokoh antagonis sinetron, tapi orang deket Gus Bupati Jember, Faida Fawait. Waid ini juga dikenal sebagai Ketua Laskar Sholawat Nusantara (LSN). Cocok, dari sholawatan pindah ke sepakbolaan. Sama-sama banyak yang teriak “ALLAAAHUU AKBAR!” – kalau nggak karena gol, ya karena pelanggaran.
Yang jadi calon Wakil Ketua? Andi Slamet. Dulu sekretaris, sekarang naik jadi wapres – eh, maksudnya wakil ketua. Kayak sinetron naik pangkat, tinggal tunggu musik dramatis dan slow motion-nya.
Keduanya didukung SSB – Sekolah Sepak Bola. Tapi tenang, bukan berarti ini pertarungan akademik. Ini lebih ke pertarungan akses, relasi, dan ya… siapa dekat siapa. Siapa Dekat, Dia Dapat. Yang jauh? Angkat tangan.
“Aklamasi: Bahasa Halus dari Nggak Ada Lawan”
Kalau sampe tanggal 22 April 2025 pendaftarnya tetep cuma itu-itu aja, maka Musda ASKAB tahun ini akan jadi Musda tersingkat sepanjang sejarah. Nggak pake voting, nggak pake debat, langsung angkat tangan rame-rame, sah jadi ketua dan wakil! Kayak beli tahu bulat: mendadak, digoreng dadakan, ditetapkan tanpa perlawanan.
Dari 18 formulir pendaftaran yang dibagikan, cuma 10 yang dikembalikan. Sisanya? Mungkin masih mikir, “Ngapain daftar, lawannya deket sama yang punya kuasa.” Maklum, ini bukan lapangan bola, ini lapangan kedekatan.
“Exco: Kursi Panas Mini Seri”
Kalau kursi ketua dan wakil udah bisa dipastikan (karena nggak ada saingan), beda cerita dengan 5 kursi Exco yang diperebutkan 8 orang. Wah, ini baru bisa bikin deg-degan. Ada mantan pemain, ada tokoh muda, ada yang dari klub ternama, bahkan ada cewek! Salut, Mbak Nila dan Mbak Silva, sepakbola bukan cuma soal jantan, tapi juga soal nyali dan visi.
Tokoh Bicara, Netizen Menduga
Bang Jaya Hartono, tokoh bola legendaris Jember, ikut buka suara. Katanya, yang penting bukan kedekatannya, tapi kapasitasnya. Tapi ya gitu, di Indonesia ini, kadang kapasitas kalah sama akses dan kedekatan. Yah, semacam “main cantik” tapi bukan di lapangan, tapi di balik layar.
Bang Jaya juga wanti-wanti: tugas ASKAB itu bukan ngatur pemain doang, tapi membina, menyemai, dan nyari bibit unggul. Kalau bisa juga nyari pupuk subsidi sekalian, biar bibitnya tumbuh subur.
Pesan dari Gareng:
Dulu waktu dipimpin menantu Bupati Hendy, Jember bisa juara 1 di Porprov. Sekarang kalau yang megang orang dekat Gus Bupati, ya wajar dong harapannya minimal juara tetap. Tapi jangan sampe ASKAB berubah jadi Asosiasi Saudara Kandung Bupati, ya!
Sepakbola itu tentang fair play, bukan family play. Biar rakyat Jember bisa yakin: yang main bukan cuma karena “dekat”, tapi juga karena hebat.
Redaksi GarengPetruk.com
Sajian Satir, Gokil, Tapi Bikin Mikir!















