(Harian Nasional Gareng Petruk, 24 November 2024)
Mangrove. Si hijau penyangga bumi pesisir ini kembali jadi primadona dalam program korporasi, kali ini lewat aksi tanam mangrove ala Perum BULOG di Arboretum Mangrove Benoa, Denpasar. Tepatnya, 570 bibit mangrove ditanam dengan semangat tinggi oleh karyawan BULOG, Sahabat Mangrove Ranger Indonesia, dan masyarakat setempat. Tapi tunggu, ini aksi tulus cinta lingkungan, atau sekadar lembaran laporan ESG (Environmental, Social, and Governance) yang wangi?
Mangrove: Pahlawan Lingkungan yang Malang Nasibnya
Sebagai penjaga garis depan dari abrasi dan tsunami, mangrove memang pantas dielu-elukan. Ia juga jagoan karbon, mampu menyedot emisi hingga lima kali lipat dibanding hutan biasa. Tapi, nasib mangrove di negeri ini sering kali ibarat pahlawan kesiangan: sering dipuji, tapi jarang dijaga.
BULOG tampaknya ingin tampil beda dengan program “BULOG Hijau”. Tanam mangrove, edukasi masyarakat, dan janji manis kolaborasi tiga tahun ke depan dengan Sahabat Mangrove Ranger Indonesia. Luar biasa, bukan? Atau… biasa saja?
570 Bibit: Cukupkah Menyelamatkan Ekosistem?
Mari kita berbicara angka. 570 bibit mangrove ditanam. Angka yang manis, tapi mari kita perjelas skalanya: luas kawasan mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,36 juta hektare, dengan degradasi hampir 1,82 juta hektare. Jadi, apakah 570 bibit ini seperti setetes air di lautan?
Namun, seperti kata pepatah, dari setetes air bisa lahir gelombang. Kalau, tentu saja, tindak lanjutnya serius. Sayangnya, sejarah sering menunjukkan aksi semacam ini lebih bersifat simbolis—tanam, foto, selesai.
Kritik Hijau untuk Aksi Hijau
BULOG berhak mendapat apresiasi atas inisiatif ini, tapi tak lepas dari pertanyaan kritis: sejauh mana aksi ini akan berlanjut? Apakah ini hanya untuk mencetak poin ESG? Dan bagaimana tanggung jawab jangka panjang terhadap bibit-bibit ini? Apakah akan dijaga hingga dewasa, atau hanya dibiarkan hidup segan mati tak mau?
Jika BULOG benar-benar serius, mestinya ada rencana konkrit: dari pemeliharaan bibit, monitoring pertumbuhan, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai penjaga ekosistem. Jangan sampai, niat baik ini malah terjebak dalam PR hijau-hijauan.
Penutup: Mangrove, Kita Semua Bertanggung Jawab
Program BULOG Hijau sejatinya membawa harapan. Tapi harapan tak bisa dibiarkan terbang tanpa pijakan. Ekosistem pesisir, seperti mangrove, bukan hanya urusan BULOG. Ini tanggung jawab kita semua—individu, komunitas, dan pemerintah.
Jadi, mari kita kawal bersama. Jangan biarkan aksi ini hanya jadi momen manis di Denpasar. Sebab, mangrove yang kuat, adalah jaminan garis pantai yang aman, dan itu bukan hanya untuk Bali, tapi untuk Indonesia.
(Ah, BULOG… hijau-hijau, tapi semoga bukan hanya demi warna laporan tahunan, ya?)















