Jakarta, 30 Juni 2025 — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang makin mirip Jakarta-Bangkok Campur Paris, Presiden Prabowo Subianto resmi membuka pintu gerbang megah Wisma Danantara Indonesia, lembaga super canggih yang katanya sih akan jadi mesin pengelola investasi negara. Tapi, jangan salah, acara ini bukan sekadar potong pita, tapi juga potong tumpeng—dan potong harapan sebagian rakyat yang belum juga kebagian tumpeng keadilan sosial.
Di kawasan elite Jalan Jenderal Gatot Subroto, bangunan menjulang yang diberi nama Wisma Danantara itu kini jadi rumah baru Lembaga Pengelola Investasi Negara yang katanya akan mengelola aset senilai lebih dari USD 1 triliun! Wah, kalau dihitung pakai kalkulator warung, itu bisa beli gorengan buat seluruh rakyat Indonesia sampai tahun 2089!
Presiden Prabowo datang dengan senyum khasnya, ditemani oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang tampak sumringah kayak habis dapat endorse. Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani langsung nyambut penuh semangat, kayak nyambut audit yang hasilnya nggak banyak merahnya.
Setelah laporan dan sambutan, tibalah momen yang ditunggu-tunggu: pemotongan tumpeng! Tentu, bukan sembarang tumpeng. Ini tumpeng simbolik, yang menunjukkan betapa besar harapan dan “rasa syukur”—meskipun di beberapa daerah, rakyat masih makan nasi aking. Tapi ya sudahlah, yang penting tetap ada “doa bersama”, dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Karena di negeri ini, antara investasi dan ilahi kadang selaras, kadang seliweran.
Danantara: Rumah Uang atau Rumah Harapan?
Rosan Roeslani menyampaikan pidato bak CEO Unicorn, menyebut Danantara Indonesia sebagai “rumah besar” bagi negara, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan. Tapi jangan lupa, “pemangku kepentingan” juga bisa berarti “pemangku janji yang belum ditepati”.
Menurut Rosan, 889 BUMN strategis kini dinaungi Danantara. Banyak juga ya? Mungkin kalau dikumpulkan bisa bikin KTP sendiri. Dan jangan main-main, target pertumbuhan ekonomi yang mereka kejar adalah 8 persen! Itu kalau dicapai, bisa bikin perekonomian lari kencang, asalkan tidak meninggalkan rakyat di halte kemiskinan.
Tapi tunggu dulu, Petruk ngingetin, “Wah, jangan-jangan pertumbuhan 8 persen itu pertumbuhan saham elite, bukan pendapatan tukang parkir atau pedagang kaki lima…”
Dolar Masuk, Apakah Dompet Rakyat Ikut Masuk Dolarnya?
Sejak diluncurkan pada 24 Februari 2025, Danantara telah kantongi komitmen investasi USD 7 miliar dari Qatar, Rusia, Tiongkok, dan Australia. Bahkan katanya Juli nanti bakal dapat tambahan USD 10 miliar dari luar negeri. Gokil, kan?
Tapi Gareng nyeletuk, “Uangnya dari luar terus, jangan sampai nanti yang kerja juga dari luar, yang makmur juga orang luar, rakyat lokal cuma disuruh nonton dari pagar sambil nyebut: ‘hebat ya negara ini!’”
Dalam peresmian, hadir juga para menteri, kepala badan, dan manajemen Danantara. Lengkap, semua ikut selfie dan upload ke medsos. Tapi rakyat yang di desa masih nanya, “Danantara itu nama penginapan atau warung kopi kekinian ya?”
Sindiran Cinta: Investasi Itu Baik, Kalau…
Investasi itu baik, kata Gareng sambil ngopi di emperan. Tapi kalau hanya jadi alat elite buat numpuk aset, dan rakyat tetap disuruh “sabar”, itu namanya bukan pembangunan, tapi pertunjukan.
Petruk menimpali, “Wis, daripada rakyat terus jadi penonton gala dinner, mending Danantara juga bikin program ‘Danantara Rakyat’, yang langsung nyambung ke warung, petani, guru honorer, dan emak-emak pejuang minyak goreng murah.”
Penutup Penuh Doa (dan Sedikit Sindiran):
Selamat untuk peresmian Wisma Danantara. Semoga bukan hanya mewah di arsitektur, tapi juga dalam keadilan. Bukan cuma rumah investasi, tapi juga rumah harapan rakyat. Dan semoga tumpeng kemarin itu bukan hanya lambang syukur elite, tapi awal rezeki yang merata dari Sabang sampai Merauke.
Amin.
Sumber: Kutipan dan fakta dari siaran pers resmi Istana dan Danantara Indonesia.
Harian Nasional Gareng Petruk — Rakyat boleh gak punya saham, tapi masih punya suara dan tawa.
















