Surabaya, garengpetruk.com – Di bawah langit Surabaya yang agak galau antara mendung dan panas-panasan hati rakyat, Polda Jawa Timur menggelar Upacara Pemuliaan Nilai Luhur Tribrata Pataka dengan tajuk magis “Tan Hana Dharma Mangrwa”. Jangan salah, ini bukan mantra sulap atau jampi-jampi santet, tapi petuah luhur dari zaman Majapahit, yang artinya: “Tiada Kebenaran yang Mendua” — walaupun kadang masyarakat bingung, yang benar itu polisi, CCTV, atau netizen?
Upacara ini digelar Senin pagi (30/6) di Gedung Patuh Mapolda Jatim, dipimpin langsung oleh Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Drs Nanang Avianto, M.Si. Para pejabat utama hadir dengan seragam lengkap dan sikap tegap — mungkin juga dengan semangat membara, atau sekadar menghindari absen fingerprint.
Menurut Kombes Pol Jules Abraham Abast, sang Kabidhumas Polda Jatim yang kalau bicara suka pakai nada diplomat, acara ini bukan sekadar formalitas. “Ini untuk menyucikan nilai luhur Tribrata,” katanya, penuh semangat, meskipun warga yang nonton livestream lebih fokus pada backsound angin dan suara sepatu gesek lantai marmer.
Katanya lagi, nilai luhur Tribrata ini ibarat kompas moral anggota Polri. Tapi ya, namanya juga kompas, kadang suka muter-muter dulu sebelum nunjuk utara yang benar.
Dharma, Bukan Drama
“Tan Hana Dharma Mangrwa” bukan lirik lagu Dewa 19, tapi kutipan dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Sebuah falsafah berat yang diturunkan dari masa Majapahit, saat hukum bukan sekadar pasal tapi perilaku, dan keadilan bukan selebriti yang hanya muncul saat viral.
Gareng pun nyeletuk, “Iki upacara kok ngelingke aku karo mantan, janji suci, tapi kenyataane ra tanggung jawab.”
Petruk menimpali, “Yo ben, sing penting saiki polisi pengin eling, ojo mung yen disorot media ae tumindak resik.”
Upacara yang Suci, Harapan yang Tak Lagi Fiksi?
Upacara ini jadi momen reflektif—katanya. Tapi rakyat di bawah masih berharap ini bukan sekadar tahunan seperti kalender dinding, yang penuh foto gagah tapi fungsinya cuma jadi pengingat tanggal merah.
Bayangkan, kalau setiap nilai luhur Tribrata benar-benar dijalankan:
Tak ada pungli di jalanan,
Laporan hilang motor ditindak tanpa perlu surat keterangan hilang dari orang tua,
Penegakan hukum nggak pakai tebang pilih — atau malah tebang rakyat, lindungi pejabat.
“Polisi itu pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujar Kombes Abast. Tapi kadang rakyat bingung, itu pelayan masyarakat atau pemadam viral? Pelindung hukum atau pelindung geng prestise?
Gareng: Tribrata Ojo Mung Diupacarake, Ning Diugemi
Gareng sambil nyemil tahu tek ngedumel, “Wani sumpah suci, tapi yo ojo mung suci pas upacara. Suci neng ati, dudu neng podium!”
Petruk nyamber, “Iya, nek sumpah polisi digebyag karo hati nurani, rakyat ora bakal gampang demo, ora perlu viral sek baru ditanggapi. Tribrata kudu dadi laku urip, dudu sekadar bahan pidato.”
Dengan Doa dan Sindiran Lembut
Di tengah haru biru upacara yang penuh khidmat dan pose foto bersama yang instagramable, rakyat cuma ingin satu: Polisi yang tak mendua. Yang tak mendua dalam menegakkan hukum, dalam melindungi masyarakat, dan dalam menjaga marwah seragamnya.
Sebab kalau sampai ada “dua kebenaran”, maka bukan hanya Pataka yang menangis, tapi rakyat kecil pun bisa jadi kehilangan arah, dan hukum tinggal cerita legenda—seperti Majapahit.
Garengpetruk.com – Karena kadang yang menyindir dengan canda, lebih menggetarkan dari yang berorasi dengan nada.
Dirgahayu Bhayangkara ke-79. Semoga Tribrata tak sekadar upacara, tapi juga hidup dalam kerja nyata.
















