> “Direktur PDAM itu bukan tukang sulap, yang tiba-tiba muncul dari topi partai.
Tapi harus muncul dari proses yang bersih, terang, dan… tidak pakai dukun!”
— Gareng, saat nyuci baju pakai air PDAM
—
KOTA BATU, JAWA TIMUR – Jumat 23 Mei 2025, suasana Kota Batu yang biasanya adem kayak es krim rasa apel, tiba-tiba hangat seperti air PDAM yang ngadat di siang bolong. Penyebabnya bukan karena pipa bocor, tapi karena Yayasan Ujung Aspal (YUA) Jawa Timur, di bawah komando juragan integritas Alex Yudawan, resmi mengirim surat “cinta kritis” ke Walikota Batu, DPRD, dan Panitia Seleksi Direktur PDAM Among Tirto.
Surat itu bukan sembarang surat, lur. Isinya bukan undangan reuni atau tagihan listrik, tapi peringatan keras agar proses seleksi Direktur PDAM dilakukan dengan transparansi, akuntabilitas, dan hati nurani, bukan pakai kode-kode WhatsApp gelap dari ruang lobi kekuasaan.
—
Wahai Pansel, Jangan Jadi Panseleng…
Dalam surat tersebut, YUA menyoroti pentingnya proses seleksi yang bersih dari segala aroma kepentingan pribadi, aroma partai, atau bahkan aroma mie rebus tengah malam. Kalau air PDAM bisa jernih, kenapa proses seleksinya malah keruh?
Alex Yudawan, dengan nada setegas penjaga loket pembayaran tagihan air, mengatakan, “Transparansi bukan slogan brosur, tapi jalan hidup pemerintahan. Kalau proses pemilihan Direktur PDAM kayak main petak umpet, ya jangan harap masyarakat percaya.”
Gareng yang mendengar ini langsung nyeletuk, “Yen milih direktur ae kudu ngumpet, terus kita nyari air kudu nambang?!”
—
Good Governance, Bukan Good Gusti Sing Milih
YUA mengingatkan: negara ini punya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, bukan Kitab Primbon Seleksi Pejabat. Maka sudah sepantasnya rakyat tahu siapa yang daftar, bagaimana diseleksi, dan kenapa yang kepilih bukan keponakan lurah.
Petruk juga ikut komentar sambil ngelap galon kosong, “Direktur PDAM itu bukan hadiah ulang tahun buat kroni, tapi amanah buat rakyat. Salah milih, bisa-bisa nanti air PDAM keluar cuma pas musim hujan.”
—
Hak Prerogatif: Jangan Jadi Jurus Prerogatif Tanpa Etika
YUA juga menyinggung soal “hak prerogatif kepala daerah”. Wah ini bagian yang bikin panas-dingin, lur. Dalam konstitusi, memang ada hak-hak tertentu yang dimiliki kepala pemerintahan, tapi jangan disalahartikan jadi Hak Seenak Udel.
Kata Alex, “Kepala daerah bukan sultan. Hak prerogatif itu harus tetap berlandaskan hukum dan logika. Kalau seenaknya ngangkat orang tanpa proses terbuka, jangan salahkan rakyat kalau nanti ngangkat poster protes.”
Gareng langsung nyeletuk lagi, “Prerogatif bukan berarti preng-prengan, toh? Wong rakyat bayar pajak, bukan bayar calon!”
—
YUA: Pilih yang Kompeten, Bukan yang Kebetulan Ngetren
YUA berharap, Panitia Seleksi tidak hanya memilih berdasarkan tebar pesona dan nama belakang yang familiar. Tapi betul-betul mengutamakan calon yang ngerti teknis air, punya rekam jejak bersih, dan tidak gampang bocor… baik secara pipa maupun integritas.
“PDAM itu nyawa pelayanan. Kalau direkturnya nggak ngerti manajemen, ya nanti air PDAM bisa ngambek,” ujar Alex sambil merapikan surat yang dikirim.
—
Akhir Kata: Jangan Sampai Rakyat Mandi Pakai Hujan
Surat dari YUA ini bukan surat ancaman, tapi surat peringatan cinta — agar pemerintah Kota Batu tidak main-main dengan amanah rakyat. Jangan sampai rakyat Kota Batu mandi pakai air hujan, sementara elitnya basah kuyup dalam urusan jabatan.
> “Transparansi bukan cuma buat pajangan spanduk, tapi harus mengalir jernih kayak air PDAM yang kita impikan.”
— (Petruk, sambil ngaduk kopi pakai air galon)
Salam Air Bersih,
Dari Gareng & Petruk yang masih nunggu PDAM ngalir 24 jam tanpa drama.
















