Rakernis Polantas: Digitalisasi Ditingkatkan, Pelayanan Jangan Cuma Nge-like di Medsos

Jakarta— Di balik layar proyektor, lampu panggung, dan deretan kursi VIP yang empuknya bisa bikin ngantuk, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi membuka Rakernis Fungsi Lantas Polri di Gedung Tribrata, Kamis (12/6/2025).

Acara ini bukan konser K-Pop, tapi nuansanya tetap ramai dan penuh jargon—dari digitalisasi layanan, modernisasi sistem, sampai penguatan kepercayaan publik.

READ ALSO

“Pelayanan publik harus dioptimalkan. Digitalisasi harus diperkuat. Lalu lintas harus lebih maju.”
Begitu kira-kira petuah Pak Kapolri yang serius tapi manis, kayak teh tawar pas haus.

Pelayanan Makin Mudah, Tapi Jangan Bikin Bingung Emak-Emak

Digitalisasi memang keren, apalagi kalau sistemnya sat set wat wet.
Tapi jangan lupa, tak semua warga akrab dengan aplikasi berlogo burung atau barcode sakti.

“Kalau mau bikin SIM harus download 3 aplikasi, upload foto 7 kali, terus tetap disuruh datang ke kantor—itu namanya ‘digital-digigit.’”

 

Jadi ingat kata Mbah Petruk:

“Maju teknologi itu perlu, tapi jangan bikin rakyat kembali ke zaman batu—gara-gara lupa password.”

Polantas Harus Hadir Saat Dibutuhkan, Bukan Hanya Saat Razia Mendadak

Kapolri juga wanti-wanti:

“Polantas harus hadir di tengah masyarakat. Bukan cuma pas Operasi Ketupat, tapi dalam keseharian.”

 

Wah, ini penting. Soalnya, banyak warga yang cuma tahu polisi lalu lintas itu muncul:

Pas lampu merah rusak

Pas ada razia

Pas butuh konten TikTok tentang tilang

“Kalau rakyat mogok di pinggir jalan, tolong dituntun bukan ditonton.”

“Kalau emak-emak nyasar, dibantu cari jalan pulang, bukan malah disuruh putar balik.”

Penghargaan ke Kementerian: Semoga Bukan Cuma Formalitas Gaya-gayaan

Sigit juga membagikan penghargaan ke beberapa Kementerian yang katanya sudah ikut menjaga ketertiban lalu lintas.
Keren sih, tapi rakyat juga nanya:

“Kalau lintas macetnya kayak bubur ayam kejatuhan truk, terus siapa yang jaga?”

 

Gareng cuma bisik-bisik:

“Jangan sampai penghargaan itu jadi kaya sertifikat lomba 17-an: banyak, tapi rakyat tetap bingung cari parkiran.”

Kritik Halus Ala Gareng: Jangan Sampai Digitalisasi Jadi Alat Jaga Jarak dari Rakyat

Digitalisasi itu ibarat pisau: bisa buat masak, bisa juga buat motong harapan.

Kalau semua layanan makin canggih, tapi hati petugas makin jauh dari empati,
maka rakyat tak lagi merasa dilayani,
tapi dilihat dari layar—seperti statistik, bukan manusia.

Pesan Penutup: Lalu Lintas Jangan Hanya Ditertibkan, Tapi Juga Dirasakan

Gareng cuma titip satu hal:

“Kalau ingin dipercaya, jangan tampil sempurna di laporan, tapi hadir nyata di jalanan.”

 

Polantas yang baik bukan yang seragamnya kinclong, tapi suaranya terdengar saat rakyat butuh bantuan, bukan hanya saat peluit dibunyikan.

Salam dari redaksi GarengPetruk.com,
Tempat di mana berita disajikan dengan senyuman, Sindiran dililitkan dengan tawa,
Tapi makna tetap menyentuh kepala… dan dompet rakyat.

Related Posts

Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *