Gareng berkata:
Wahai jiwa-jiwa yang lelah,
Setiap harimu adalah perang,
Bukan melawan musuh dengan pedang,
Tapi melawan perut yang kosong, melawan malam yang panjang.
Apakah ada yang tahu beratnya langkahmu,
Saat kau bangun tanpa kepastian, hanya ditemani angin sepi?
Engkau, wahai rakyat jelata,
Yang berjalan di bawah terik matahari,
Dengan keringat yang tak berharga di mata mereka,
Tapi engkau tetap melangkah,
Karena harapan adalah satu-satunya nyala yang tersisa,
Meski api itu kian redup, tak pernah padam di jiwamu.
Petruk menjawab:
Kita adalah bayang-bayang di pinggir jalan,
Yang mereka pandang dengan mata tak peduli,
Mereka yang duduk di singgasana tinggi,
Takkan pernah tahu dinginnya malam di bawah atap bocor.
Siapakah yang akan berjuang untuk kita?
Siapakah yang akan mendengar tangisan kita,
Jika bukan kita sendiri yang menghapus air mata?
Engkau bertahan, wahai kawan,
Meski tanah retak di bawah kakimu,
Meski langit menutup dirinya dengan awan kelabu,
Kau tetap menanam benih harapan,
Di ladang yang hampir tandus,
Karena engkau percaya, mungkin besok akan berbeda.

Gareng dan Petruk bersama:
Siapa yang peduli pada senyummu yang hilang?
Siapa yang akan berdiri di sampingmu,
Saat dunia berpaling,
Saat para raja dan pangeran sibuk memandang langit?
Kita ini hanyalah butir debu,
Tapi dalam debu itu, ada kekuatan yang tak terlihat,
Kekuatan untuk bertahan, untuk terus berjuang,
Bukan untuk emas atau kemewahan,
Tapi untuk mimpi yang sederhana,
Bahwa suatu hari, anak-anak kita takkan lagi mengenal rasa lapar,
Takkan lagi menangis di bawah bintang yang tak bercahaya.
Gareng menghela napas:
Jiwa-jiwa jelata, kalianlah pelukis kehidupan,
Dengan tangan kalian yang kasar,
Dengan tubuh kalian yang ringkih,
Tapi hati kalian, wahai kawan, adalah benteng yang kokoh,
Di mana harapan tinggal, meski dunia mengabaikan.
Petruk terisak:
Siapa yang akan memperjuangkan kalian?
Siapa yang akan menyuarakan jeritan kalian?
Jika bukan dari kita sendiri,
Jika bukan dari suara kita yang lirih namun penuh keberanian.
Kita adalah mereka yang terlupakan,
Tapi di dalam diri kita, ada kekuatan yang lebih besar,
Kekuatan untuk menghidupi, untuk bertahan,
Dan meski langkah kita berat,
Kita tetap berjalan, menuju hari yang lebih terang,
Di mana tidak ada lagi tangis di atas tanah ini,
Hanya tawa dan keadilan yang akhirnya berpihak pada kita.
Gareng dan Petruk bersama:
Wahai, kehidupan yang keras,
Kami hadapi engkau tanpa takut,
Dengan tangan yang gemetar, namun hati yang teguh.
Kami mungkin kecil di mata dunia,
Namun kami besar di dalam jiwa kami.
Untuk engkau, wahai rakyat jelata,
Teruslah bertahan, karena harapan tak pernah sepenuhnya mati.
















Everyone loves it when people come together and share opinions.
Great website, continue the good work!
Good day! I know this is kinda off topic but I was wondering which blog platform are you
using for this site? I’m getting sick and tired of WordPress because I’ve had issues with hackers and I’m
looking at alternatives for another platform. I would be great if you could point me in the direction of a good platform.
Pretty! This was an extremely wonderful article.
Thanks for providing this information.
I have been browsing online more than 3 hours today, yet
I never found any interesting article like yours.
It’s pretty worth enough for me. In my opinion, if all webmasters and bloggers made good content as you did, the
net will be a lot more useful than ever before.
I have read so many posts regarding the blogger lovers except
this paragraph is truly a fastidious post, keep it up.
Hi! Do you know if they make any plugins to protect against
hackers? I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked hard on.
Any recommendations?