Pondok Gede, Kota Bekasi – Di Masjid Syafiul Ikhwan, malam itu ada yang berbeda. Selain suara ratib, lantunan maulid, dan tausiyah yang menenangkan, hadir pula pemandangan tak biasa: deretan seragam polisi rapi berjejer dengan jamaah. Wakapolsek Pondok Gede, AKP Sri Kusnandar, memimpin pasukan cooling system yang, kali ini, berkedok jemaah Maulid Nabi.
Kegiatan ini seolah menjadi arena latihan sosial menjelang Pilkada 2024. Polisi, tokoh agama, hingga camat hadir dalam satu saf—layaknya barisan doa yang tak hanya minta hujan, tapi juga minta keamanan. Namun, diam-diam ini juga ajang kampanye terselubung: “Hei, masyarakat, Pilkada aman itu tanggung jawab bersama. Tapi kalau ada yang gaduh, siap-siap ya, kami hadir!”
Ketua Yayasan Syafiul Ikhwan, KH. Masthuri Syafaat, tampaknya sudah hafal skenario ini. Dengan senyuman yang mengisyaratkan “kita semua tahu apa yang sedang terjadi,” ia tetap menyambut baik kehadiran polisi. “Kami sangat berterima kasih atas kehadiran ini. Memang kegiatan positif seperti ini butuh dukungan dari semua pihak,” katanya. Pesan yang lugas, tapi terjemahannya bisa jadi, “Yah, lebih baik datang di acara Maulid daripada datang karena kericuhan.”
Dalam ceramahnya, Habib Hamid bin Abdullah Alkaff sempat menyentil tentang pentingnya menjaga persatuan di tahun politik. Sementara itu, Habib Umar al-Hadad mengingatkan, “Pemimpin yang adil adalah cerminan masyarakat yang amanah.” Tanpa disadari, ceramah agama berubah jadi kuliah singkat kewarganegaraan.
AKP Sri Kusnandar sendiri berusaha tampil bersahaja, menyatakan bahwa kehadiran mereka semata demi mempererat silaturahmi dan memastikan situasi kondusif. Namun, bisik-bisik jamaah tampaknya lebih tertarik dengan pertanyaan: “Pak polisi ini nyimak ceramah atau malah bikin laporan situasi?”
Acara berakhir dengan tenang sekitar pukul 23.00 WIB. Jamaah bubar dengan pikiran campur aduk antara momen religius dan sindiran politik. Yang jelas, Maulid Nabi tahun ini punya tambahan elemen baru: semangat menjaga kondusivitas versi seragam cokelat.
Mungkin, seperti tausiyah tadi malam, pesan sebenarnya adalah ini: pilkada yang damai adalah maulid dalam versi lain—perayaan atas lahirnya pemimpin yang membawa berkah. Hanya saja, mari kita doakan agar maulid ini tak berakhir dengan “ratib” kerusuhan di hari pemilu nanti.
















