Jakarta, garengpetruk.com – Di tengah riuhnya berita politik, gosip selebritas, dan kabar gorong-gorong jebol, ternyata ada satu jenis berita yang sering kelupaan: berita ramah anak! Iya, betul! Bukan ramah dompet, bukan ramah buzzer, tapi ramah anak!
Coba deh bayangin, anak SD baru bisa baca, tiba-tiba lihat berita judulnya:
“Mayat Membusuk Ditemukan di Kolong Flyover, Diduga Korban Perselingkuhan Tragis!”
Lah, itu anak bisa trauma baca sampe gede! Mau tidur jadi takut sama flyover, bukan sama kuntilanak.
Apa Itu Pers Ramah Anak?
Pers ramah anak itu bukan berarti semua berita harus pakai boneka atau suara imut. Tapi gimana caranya menyajikan informasi yang:
Tidak memuat kekerasan secara vulgar
Tidak mengeksploitasi anak sebagai korban atau pelaku
Tidak memberikan identitas pribadi anak
Memberikan inspirasi dan edukasi sesuai usia
Dan tentu saja, tidak membuat anak kehilangan masa kecilnya gegara berita!
STOP Eksploitasi Anak di Berita!
Masih banyak media yang asal comot wajah anak korban kekerasan, atau wawancarai anak trauma kayak ngorek luka. Padahal undang-undangnya udah jelas:
UU Perlindungan Anak bilang, identitas anak harus dirahasiakan!
Tapi kadang wartawan ngeles:
“Wajahnya blur kok, cuma namanya ditulis.”
Lha itu sama aja kaya ngasih kopi pahit tapi dikasih sedotan warna-warni. Masih pahit, Pak!
Gareng & Petruk: Jadi Wartawan Juga Harus Jadi Teladan
Sebagai jurnalis, kita bukan cuma pencatat sejarah, tapi juga guru tanpa papan tulis. Jangan cuma cari clickbait, tapi cari hikmah!
Jangan cuma kejar rating, tapi kejar makna!
Contoh berita ramah anak ala Gareng:
“Anak-anak SD di Klaten Belajar Menanam Padi, Biar Tahu Nasi Itu dari Sawah, Bukan dari Rice Cooker!”
Nah itu baru mendidik, lucu, dan ramah anak! Anak senyum, emak tenang, guru senang.
Pesan Akhir dari Petruk:
“Kalau berita bisa membentuk karakter, maka jurnalis jangan cuma jadi tukang ketik, tapi jadi penyuluh akhlak!”
Anak-anak bukan objek pasar, tapi calon pemimpin masa depan. Kalau media rusak logika dan rasa sejak dini, jangan salahkan nanti kalau negara dipimpin orang yang tahunya cuma dari TikTok.
Catatan Redaksi:
Mulai sekarang, yuk kita dorong semua redaksi di Indonesia punya Ruang Ramah Anak — tempat di mana berita disaring, bukan asal lempar. Karena masa depan anak, bukan bahan dagangan untuk klik harian.
















