Jakarta, kota megapolitan tempat gedung pencakar langit bersaing dengan harga parkir, kini kedatangan tamu istimewa—bukan selebritas, bukan pula buzzer politik, tapi rombongan pejuang literasi budaya yang datang tidak membawa amplop, melainkan gagasan dan harapan.
Ya, rombongan yang terdiri dari Serepina Tiur Maida, dosen antropologi dari Universitas MPU Tantular Jakarta, bersama tiga sekawan akademisi: Arfian, Tri, dan Irwan, resmi sowan ke Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Tapi tenang, sowan mereka ini bukan untuk cari proyek, bukan juga bagi-bagi proposal, melainkan menyodorkan semangat dan akal sehat. Wah, langka kan?

Jelajah Budaya: Bukan Buku Biasa
Gerakan ini punya tajuk yang tak kalah nasionalis dari spanduk 17-an: “Gerakan Menulis untuk Negeri!”
Dan dari rahim gerakan ini lahirlah bayi pertama berbentuk buku bertajuk “Jelajah Budaya: Kumpulan Karya dari Ruang Kuliah Antropologi”, yang rencananya akan diluncurkan pada:
📅 Sabtu, 19 Juli 2025
📍 Cyber 2 Tower, Lt.17, Jl. H. R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan
⏰ Pukul 10.00 WIB
Alih-alih mencetak baliho bergambar senyum palsu, mereka justru mencetak pemikiran. Di tengah budaya instan dan viral-viral-an, hadirnya buku ini ibarat menanam pohon di tengah gurun scroll TikTok: tak populer, tapi menyelamatkan.
Sowan Bermakna, Bukan Basa-Basi
Sowan mereka ke Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bukan untuk sekadar “cek ombak”. Tapi sungguh-sungguh ingin mendapatkan arahan, restu, dan dukungan moral dari pihak yang seharusnya jadi garda depan pelestarian budaya: pemerintah.
Dan alhamdulillah, sowan ini disambut hangat oleh Pak Puspla, sang Kasubdin Kebudayaan yang—syukurnya—masih waras dan berselera humor.
“Buku ini adalah masukan pertama dari kalangan akademisi untuk Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Sebagai kota global dengan budaya yang heterogen, ini sangat berarti bagi kami,” ujar Pak Puspla sambil menyisipkan teh dan naskah sambutan.
Yang lebih menyentuh hati, mereka juga meminta Kepala Dinas untuk memberi kata pengantar dalam buku ini. Bukan sekadar basa-basi birokrasi, tapi sebagai simbol gotong royong antara kampus dan negara, antara pena dan kebijakan.

Kritik yang Halus Tapi Tajam: Seperti Sambal yang Dicampur Madu
Gareng dan Petruk, sebagai editor khas dari langit satire, hanya bisa manggut-manggut sambil nyeletuk:
“Lha piye, wong negara ini lebih sering sibuk nyusun anggaran lomba nyanyi, tapi lupa menyusun sejarahnya sendiri.”
Buku ini bukan sekadar kumpulan esai. Tapi kumpulan kesadaran, bahwa budaya bukan benda pajangan, tapi napas harian. Budaya bukan untuk disimpan di museum, tapi untuk dihidupkan dalam kehidupan.
Dari MPU Tantular untuk Negeri
Bu Serepina dan timnya mengingatkan kita semua bahwa menulis budaya itu bukan hanya soal akademis, tapi tanggung jawab moral. Di tengah kehidupan kota yang makin absurd, di mana warkop punya WiFi tapi rakyat nggak punya sinyal keadilan, buku seperti Jelajah Budaya adalah upaya perlawanan yang paling elegan.
“Ini bukan soal terkenal, tapi soal menanam. Kami tanam hari ini, semoga generasi nanti bisa panen,” ujar Bu Serepina sambil tersenyum, bukan di baliho tapi di hati kami.
#JelajahBudaya
#SowanLiterasi
#SerepinaDanTigaSekawan
#BudayaAdalahIdentitas
#GarengPetrukDukungLiterasi
“Ketika pemimpin sibuk berjanji, rakyat diam-diam menulis sejarah.” – Gareng & Petruk
Sampai jumpa di acara peluncuran. Bawa pena, bukan kamera. Yang penting isi, bukan selfie.















