Oleh: Radhar Tribaskoro
Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia
Lur, ini negara kayak rumah tangga: yang satu kepala rumah tangga, yang satu tukang jagain rumah. Tapi masalahnya, kadang tukang jagain rumah malah jadi kepala rumah tangga. Sipil dan militer ini kayak mantan pacar yang pernah toksik, lalu sekarang diajak balikan. Pertanyaannya: sudah saling sembuh apa belum?
Coba kita tengok sebentar ke belakang (jangan kejauhan, ntar nyasar ke Orde Baru). Dulu, tentara kita punya dua fungsi: satu nembak musuh, satu lagi nembak proyek. Mereka duduk di DPR, jaga kantor kelurahan, sampai ikut ngatur urusan seni budaya — padahal bedain dangdut dan keroncong aja masih bingung.
Sekarang katanya sudah demokrasi. Sipil berkuasa, militer profesional. Tapi kenapa ya, kadang militer masih suka ditarik-tarik buat ngurusin yang bukan urusannya? Mulai dari anak-anak nakal dikirim ke pelatihan semi-militer (kayak hukuman versi nasionalis), sampai jaga-jaga Kejaksaan Agung (emang kejaksaan mau digeruduk siapa, jin Ifrit?).
Anak Nakal, Solusinya Latihan Baris-Berbaris?
Jujur wae, lur. Kalau ada anak tawuran, nyopet, atau main skip sekolah, terus solusinya disuruh baris-berbaris pagi-pagi sambil teriak “Siap Grak!”, apa itu nggak kayak ngasih mie instan buat orang sakit maag? Lucu sih, tapi kasihan.
Kata KPAI dan LSM, militer itu bukan tempat terapi trauma, bro. Tapi dari pihak Pak Gubernur, katanya ini cara membangun karakter. Lah, kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja ibu-ibu arisan suruh baris tiap hari minggu? Biar disiplin semua kan.
Militer Jaga Kejaksaan? Waduh, Jangan-Jangan…
Nah ini juga, TNI jaga kantor Kejagung. Entah karena takut disatroni tuyul atau takut jaksa disandera amplop, yang jelas masyarakat mulai gelisah. “Lho, kok tentara nongol lagi di wilayah sipil?” kata warganet sambil update status.
Tapi kata TNI, ini bagian dari tugas bantu pengamanan. Yaudah, tapi pelan-pelan dong, jangan sampe kayak mantan yang tiba-tiba nongol lagi di kondangan, nyapa, lalu bilang, “Masih ada rasa?”
Purnawirawan Angkat Bicara: Ternyata Tentara Juga Bisa Baperan
Eh tapi jangan salah sangka, ya. Waktu Pilpres kemarin, justru para pensiunan jenderal yang bersuara: katanya pemilu carut-marut, sistem hukum dilangkahi, dan demokrasi jadi kayak drama Korea — banyak twist, tapi penontonnya stres.
Ini bukti bahwa tentara juga bisa punya nurani. Bukan cuma urat leher. Mereka nggak ngajak kudeta, nggak ngajak demo pakai tank, tapi ngajak mikir bareng soal keadilan. Keren kan?
Solusi: Bukan Menolak, Tapi Menata Ulang
Jadi gini lho, Gaes. Militer itu penting. Tapi kayak sambal: secukupnya. Kalau kebanyakan, bukannya enak, malah sakit perut. Kita butuh militer yang profesional, bukan militer yang nganggur terus nyari kerja sambilan di ranah sipil.
Hubungan sipil-militer itu bukan kayak sinetron, yang satu baik terus yang satu jahat. Dua-duanya bisa nyebelin, dua-duanya juga bisa keren — kalau tahu batas dan tahu peran.
Sipil jangan sok tahu terus nyuruh tentara angkat koper dari mana-mana. Tapi militer juga jangan sok romantis tiba-tiba nongol di dapur demokrasi tanpa undangan. Sipil dan militer harus duduk bareng. Bukan untuk rebutan kekuasaan, tapi bikin bangsa ini waras bareng-bareng.
Penutup dari Petruk yang Setia pada Rakyat
Jadi, lur, mari kita bangun hubungan sipil-militer yang sehat. Bukan kayak mantan yang suka ghosting. Tapi kayak teman lama yang tahu batas. Sipil ngatur, militer menjaga. Sipil cerewet, militer sabar. Sipil kritik, militer ngopi.
Kalau dua kekuatan ini bisa kerja sama tanpa saling ngatur-ngatur, Indonesia bisa maju — nggak cuma baris-berbaris, tapi juga mikir bareng, kerja bareng, dan ketawa bareng.
Salam hormat dari Petruk,
Yang dulu pernah baris-berbaris demi nilai PPKn, tapi sekarang lebih suka diskusi demokrasi sambil ngopi di angkringan.
—
Disponsori oleh: Warung Kopi Demokrasi — tempat ngopi, ngeluh, dan nyusun strategi menyelamatkan republik, bukan nyusun pasukan.
Meikarta, 14 Mei 2025
Penulis mantan Sekertaris DPD Gerindra Jawa Barat















