Dulu aku pikir memuji Tuhan itu harus dengan suara serak-serak merdu, kepala tertunduk 45 derajat, dan kening berparfum sajadah. Tapi rupanya, Tuhan lebih senang disenyumi—bukan cuma disembah.
Senyuman itu ibadah, kata Jalaluddin Rumi sambil menari muter-muter seperti kipas angin spiritual. Tapi manusia zaman sekarang malah sibuk manyun: rebutan kuasa, ribut harga cabai, bahkan rebutan kebenaran yang seolah-olah cuma muat satu orang.
Padahal, kata Petruk, “Sing bener yo kudu ndadi lucu sik, ben ora mumet uripmu.” (Yang benar itu harus lucu dulu, biar hidupmu gak stres.)
Tuhan, Aku Ketawa Karena Aku Paham
Rumi bilang, “Gelak tawa yang datang dari hati yang mengerti, lebih dalam dari seribu ayat suci yang dibaca tanpa rasa.” Maka ketika Gareng lihat orang rebutan jabatan sampai lupa jabat tangan, ia hanya tersenyum simpul—simpuul banget, sampai kayak tali kolor kendor.
“Wahai manusia,” kata Petruk di tengah pasar, “kenapa kamu marah kalau orang beda pendapat, tapi diam saja ketika harga beras naik kayak harga outfit selebgram?”
Itulah kenapa senyuman kita harus punya makna. Bukan senyum yang penuh tipu daya, tapi senyum yang datang dari penerimaan: bahwa dunia ini memang panggung sandiwara, dan kita semua pemainnya, meski sering lupa skrip dan malah adu peran.
Sufisme: Ketika Hati Bicara, Logika Menunduk
Dalam filsafat, manusia bertanya: siapakah aku? Tapi dalam sufisme, manusia tersenyum dan berkata: aku bukan siapa-siapa kecuali cinta yang sedang mencari jalan pulang.
Gareng pun merenung di bawah pohon randu, sambil makan tempe mendoan basi.
“Lha iki piye, wong ngaku beriman tapi gampang marah, ngaku bertuhan tapi belum pernah tertawa dari hati, malah curiga kalau ada orang bahagia!”
Tuhan tidak segelisah itu dicurigai. Tuhan itu Maha Pemaaf, bukan Maha Kepo. Tapi manusia? Sedikit-sedikit nuduh: kafir, sesat, bid’ah, dan kalau bisa—block sekalian dari grup WA keluarga.
Senyum Itu Revolusi Sunyi
Senyum Petruk di pasar lebih keras dari orasi politisi. Karena senyumnya menyiratkan: “Aku tahu dunia ini kadang edan, tapi aku memilih waras—meski kadang pura-pura gila agar tidak terseret.”
Senyum adalah bentuk protes tanpa bakar ban. Ia tidak melukai, tapi menusuk lembut ke dalam nurani: “Wahai engkau yang berbaju agamis, jangan sampai senyummu tertutup karena takut dianggap tidak serius!”
Kritik Terakhir: Tuhan Tidak Butuh Dirimu Menjadi Marah
Petruk berkata sambil ngelus dada (yang mulai sesak karena cicilan), “Tuhan tidak sedang butuh tentara maya, yang kerjaannya ngatain orang beda pandangan sebagai musuh agama.”
Justru, Tuhan lebih terpanggil oleh orang yang bisa menyapa tetangganya meski beda pilihan, yang bisa senyum pada sopir angkot, yang bisa menahan lidah meski jari-jari gatal ingin berdebat di kolom komentar.
Karena di balik senyuman yang tulus, ada doa tak terucap. Di balik gelak tawa yang jujur, ada pujian yang lebih harum dari dupa.
—
Penutup: Senyumlah, Wahai Manusia
Jika engkau tak sempat ke masjid, tak cukup uang untuk sedekah, atau tak kuat puasa sunah—maka setidaknya senyumlah. Senyum itu juga amal. Dan barangkali, justru lewat senyumanmu, orang lain percaya bahwa Tuhan itu ada, dan cinta-Nya nyata.
Karena, seperti kata Gareng,
“Urip iku ora mung kanggo ngeluh, tapi kanggo guyu sing jero.”
(Hidup itu bukan cuma
untuk mengeluh, tapi untuk tertawa yang dalam.)















