GarengPetruk.com – Jakarta
Begitu banyak susu tumpah sebelum sampai ke gelas, dan biji kakao yang lebih banyak berakhir jadi hiasan daripada cokelat. Tapi tenang, Kemenperin nggak tinggal diam. Dengan semangat ngirit-ngirit impor dan nggenjot lokalitas, mereka meluncurkan strategi ciamik: digitalisasi bahan baku dan program “Dokter Kakao”! Ealah, dokter sing waras-ra-warasan iki, tapi bisa nyembuhin produktivitas petani.
Sapi Perah Ketularan Teknologi
Putu Juli Ardika, sang Dirjen Industri Agro, ngumumke kabar baik: “Tempat penerimaan susu sekarang udah digital! Nggak cuma manusia yang naik level, sapi juga!” ujarnya sambil sumringah seperti baru dapet voucher belanja gratis.
Katanya sih, dengan digitalisasi, kontaminasi susu bisa ditekan. Ya, minimal sekarang susu nggak rasa plastik dan bau laler. Jadi kalau biasanya minum susu lokal bikin mules, sekarang insyaallah tinggal nyengir.
Dokter Kakao, Bukan Tukang Coklat Biasa
Sementara di dunia kakao yang dulunya penuh drama petani meringis karena harga anjlok, kini hadir program “Dokter Kakao.” Bukan buat kasih resep obat, tapi kasih resep sukses. Petani diajarin agronomi, alias ilmu bertani yang ora asal tabur benih sambil ngopi nunggu panen.
Kata Pak Putu, produksi kakao naik, petani senyum, dan senyum itu bukan karena dikasih amplop. Program ini udah nyebar ke Poso, Aceh, dan bentar lagi ke Cianjur. Kolaborasinya bareng ASKINDO, singkatan dari Asosiasi Kakao Indonesia, bukan Asosiasi Sindiran Nasional ya, meskipun kami tergoda masukin.
Ketergantungan Impor, Cinta Lama yang Sulit Move On
Menurut data resmi, Indonesia butuh 300 ribu ton kakao dan 4 juta ton susu saban tahun. Tapi produksi lokal? Kakao baru nutup 50%, susu malah cuma 20%. Waduh, ini bukan defisit cinta, tapi defisit bahan baku nasional!
Makanya Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza buka suara, “Kita harus kerja bareng: kementerian, kampus, pengusaha, petani, bahkan kamu yang lagi rebahan. Biar nggak terus-terusan ngimpor, lha masa industri lokal rasa luar negeri?”
Beliau juga bilang, susu dan kakao punya problem beda. Kakao menurun karena petani udah banyak yang alih profesi jadi tukang konten, sementara susu terkendala sapi yang ogah beranak-pinak karena iklim dan bibit unggul yang susah dicari.
Gareng Ngomong:
“Digitalisasi susu dan dokter kakao ini langkah maju, tapi ojo mung nggo konten sosmed lan seremoni. Mbok ya petani beneran diopeni, sapi dijajani rumput bergizi, jangan dikasih janji manis kaya kampanye! Coklat ora bakal manis nek petanine ngenes!”
Petruk Nambahi:
“Yo, wis wayahe industri ora mung mikir ekspor, tapi mikir akar. Nek bahan baku wae isih ngimpor, piye ceritane arep mandiri? Mbok ya ditambah program ‘Psikolog Sapi’ lan ‘Ahli Gizi Kakao’ ben komplet!”
Akhir kata, Kemenperin pancen wis mulai melangkah, tapi perjalanan menuju kemandirian bahan baku isih dawa. Sementara sapi dan kakao diajar teknologi, moga-moga manusiane ora kalah pinter.
















