Pernahkah sampeyan semua merenung (ya walau cuma sebentar pas sinyal hilang), dan bertanya-tanya: ini kita hidup di mana, sih? Dunia? Alam semesta? Atau… jangan-jangan cuma di dalam kandang kambing?
Iya, kandang. Tempat sempit, penuh bau pesing, tapi tiap penghuninya merasa penting.
Mari saya bisikin pelan-pelan: kita ini kambing. Dunia ini kandangnya.
Tenang, tenang. Jangan ngamuk dulu. Tarik napas. Coba bayangin…
Kambing Bandot: Si Raja Nafsu
Di sudut kandang, ada kambing bandot. Gaya jalan sombong, bulu lebat, janggut bergoyang bak influencer spiritual, padahal kerjaannya cuma satu: ngejar-ngejar betina. Birahi meluap, nafsu tak tertahan, segala rumput dipatok, bahkan batang pisang pun disangka peluang.
Ia sering khutbah:
“Hidup ini untuk menikmati. Kalau nggak enak, berarti belum hidup!”
Padahal, dalam diam, ia lupa: segala keindahan yang ia lahap, semua harus dibayar. Entah dengan gatal, entah dengan dikorbankan jadi sate di malam Jumat.
Kambing Kurban: Si Ikhlas Sepanjang Masa
Kemudian, ada kambing kurban. Hidupnya lurus, jinak, patuh. Makan secukupnya, tidur teratur, ikut aturan kandang. Pagi disuruh ke barat, sore ke timur, dia manut. Seakan dia lah pahlawan moral dunia.
Tapi sayangnya, ia juga yang pertama disembelih.
Setiap tahun, setiap rezim, setiap sistem. Dia dikorbankan, dengan dalih: “Demi kemaslahatan bersama.”
Lah, kok yang berkorban dia mulu, yang kenyang pengurus kandang?
Kambing Hias & Kambing Peliharaan: Si Pameran Kehidupan
Ada juga kambing hias. Putih bersih, dikasih pita, kuku dicat. Muncul di kontes, muncul di TikTok. Kerjanya cuma: “Mbeee~” sambil menoleh genit.
Lalu, kambing peliharaan. Dikasih nama manusia: Joko, Sari, Kadek. Diajak main, dielus, dikasih rumput organik. Tapi tetap… dikandangin.
Karena meskipun tampil mewah, hidupnya bukan miliknya. Ia tetap… milik yang punya kandang.
Kambing Susu: Si Produktif yang Tak Pernah Cukup
Nah, yang satu ini paling sibuk: kambing penghasil susu. Ia diperah pagi, sore, kadang lembur malam minggu. Saking produktifnya, sampai lupa rasanya jadi kambing.
Kadang ia bertanya:
“Aku kerja terus, buat siapa ya?”
Tapi pertanyaan itu ditutup dengan tagihan listrik, cicilan jerami, dan utang pupuk organik. Jadi ia lanjut memerah… perasaan.
Kambing Gunung: Si Liar yang Katanya Bebas
Di luar kandang, ada kambing gunung. Ia naik tebing, melompat, bebas merdeka.
Katanya:
“Aku bukan seperti kalian. Aku liar, mandiri, tak terikat sistem!”
Tapi tunggu… Ia tetap diburu. Oleh kambing kandang yang iri, dan pemburu yang lapar.
Dan Kita Semua Sibuk…
Sibuk bertengkar. Sibuk pamer. Sibuk cari rumput. Sibuk ngintip kandang sebelah. Sibuk ngejar hasrat. Sibuk menjadi ‘yang terbaik’. Sampai lupa…
Lupa jalan pulang.
Pulang ke mana? Ya ke padang rumput itu… tempat awal kita berasal. Tempat bebas, tempat damai. Tempat di mana jadi kambing pun tak perlu pura-pura.
Tapi kini, semua terlalu nyaman hidup di kandang.
Kandang yang katanya dunia nyata, padahal cuma realitas yang dibuat-buat. Yang penting ramai. Yang penting trending. Yang penting viral, meski sebentar.
Sampeyan Kambing atau Bukan?
Maka Gareng cuma mau tanya satu:
“Sampeyan ini manusia… atau kambing yang belum sadar dikandangin?”
Kalau belum tahu jawabannya, silakan lanjut merumput. Tapi hati-hati, jangan-jangan sampeyan bukan cuma kambing kurban… tapi juga kambing bandot yang doyan drama.
Dan dunia? Tetaplah jadi kandang penuh absurd, tempat kambing-kambing saling menyikut, demi jadi kambing paling penting di kandang yang sama.
Mbee…
(Bersambung di kandang sebelah…)
















