Bombana, 4 Oktober 2024 — Di tengah hiruk-pikuk Pilkada Bombana 2024 yang mulai memanas, di mana sebagian paslon lebih sibuk membagikan “cerita-cerita asyik” yang penuh dengan drama dan bumbu-bumbu politik, Fatimah—istri dari calon bupati nomor urut 1, Burhanuddin—malah memilih berbagi berkah di Rumah Sakit Tanduale, Bombana. Tanpa drama, tanpa basa-basi, Fatimah hadir untuk memberikan dukungan moral kepada masyarakat yang sedang berjuang di ranjang-ranjang rumah sakit.
“Jumat Berkah,” katanya dengan senyum teduh, sambil membagikan sembako dan doa-doa tulus. Fatimah bukan cuma datang sebagai istri calon bupati, tapi sebagai seorang manusia yang peduli dengan sesama. Eh, tapi tunggu dulu… Mana istri-istri calon lainnya? Atau jangan-jangan mereka sibuk ikut menyusun naskah kampanye hitam?
Masyarakat Bombana: Mendapat Berkah, Bukan Berita Bohong
Warga yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut menyambut hangat kehadiran Fatimah. Mereka merasa diakui dan didukung oleh seorang figur yang berani turun langsung ke lapangan, bukan sekadar nongol di baliho atau spanduk besar di pinggir jalan. Seperti kata Bu Aisyah, salah satu pasien, “Saya nggak nyangka, ibu bupati mau datang lihat kita-kita yang sakit. Biasanya kalau ada pemilu, yang datang cuma foto-foto di baliho. Tapi ini, ibu Fatimah datang langsung.”

Sementara itu, paslon nomor urut 2 dan 3 malah sibuk membagikan berita-berita seru, yang entah kenapa isinya lebih mirip gosip. Mungkin mereka lebih tertarik memberikan cerita sensasional dibandingkan berkah nyata. Ya, bagaimana tidak? Bukannya turun ke lapangan, mereka malah sibuk adu argumen di media sosial, menebar kampanye hitam, bahkan bermain api SARA dan ujaran kebencian.
“Bagi-bagi Fitnah atau Bagi-bagi Berkah?”
Fatimah Pemberani, dalam aksinya yang sederhana namun sarat makna ini, seolah ingin menegaskan bahwa kepedulian kepada masyarakat adalah tugas utama calon pemimpin. Sebaliknya, fitnah dan hoaks hanya merugikan rakyat. Apakah ada yang lupa bahwa rakyat butuh bukti, bukan janji manis apalagi bumbu drama?
Paslon nomor urut 2 dan 3, apakah Anda dengar? Mungkin ini saatnya Anda keluar dari markas dan ikut turun ke lapangan, atau setidaknya ke rumah sakit, untuk melihat langsung kondisi warga. Jangan cuma sibuk menyebar cerita-cerita di belakang layar, karena rakyat tak butuh cerita fiksi!
Fatimah melanjutkan, “Kita semua manusia, tidak bisa menyenangkan semua pihak. Tapi tugas kita, kalau mau jadi pemimpin, adalah bekerja untuk masyarakat, bukan bekerja untuk ambisi pribadi.” Sebuah tamparan halus tapi menusuk untuk mereka yang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebaikan.
“Paslon Lain Sibuk di Balik Layar, Sementara Istri Burhanuddin Ada di Garis Depan”
Sementara Fatimah sibuk berbagi berkah, mendukung warga yang tengah sakit, calon lain tampaknya lebih asyik sibuk di balik layar, mencari cara untuk menjatuhkan lawan dengan narasi-narasi negatif. Dari berita bohong hingga isu SARA, semua diluncurkan tanpa malu-malu. Namun, seperti yang dikatakan Fatimah, “Fitnah itu seperti boomerang, cepat atau lambat akan kembali ke pelakunya.”
Rakyat Bombana tentu tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana yang sungguh-sungguh bekerja untuk kebaikan, dan mana yang sekadar mengobral janji, apalagi janji yang palsu. Pasangan nomor urut 2 dan 3 mungkin lupa bahwa rakyat kini sudah melek informasi dan bisa mencium aroma fitnah dari jauh. Makanya, lebih baik berhenti menyebar berita palsu dan mulai bekerja nyata.
Penutup: Pilih yang Memberi Berkah, Bukan Fitnah
Kampanye hitam, fitnah, dan ujaran kebencian bukanlah cara untuk memenangkan hati rakyat. Rakyat butuh pemimpin yang bekerja dengan hati, bukan dengan kata-kata yang menyakitkan. Fatimah telah memberi contoh nyata bahwa kepedulian dan aksi langsung lebih berbicara daripada seribu cerita kosong. Mungkin inilah perbedaan antara pemimpin sejati dan mereka yang hanya mengejar kekuasaan.
Jadi, masyarakat Bombana, saat Anda memilih nanti, ingat siapa yang benar-benar hadir untuk Anda, bukan hanya hadir di layar ponsel atau di berita-berita sensasional. Pilihlah yang membawa berkah, bukan yang membawa cerita palsu.
















