Ketika diplomasi menari di gedung-gedung tinggi Washington, hasilnya ternyata tak semanis teh tarik di warung sebelah. Sudah bolak-balik ke Amerika, sudah jabat tangan, sudah selfie bareng pejabat USTR, lha kok tarif ekspor kita tetap aja dicuekin. Padahal kita sudah senyum terbaik, batik terbaik, bahkan menteri terbaik. Tapi hasilnya? Zonk.
Kabar mengejutkan datang dari negeri Paman Sam, lebih tepatnya dari Pakde Trump yang suka bikin drama di medsos. Dalam surat cinta politiknya kepada Presiden Prabowo, Trump menulis dengan gaya khasnya yang bold dan blunt, “Kalau mau bebas tarif, ya investasi dong di Amerika Serikat!”
Wah, ternyata… Tarif Nol Persen itu bukan hasil diplomasi, tapi hasil dari ‘nebeng dagang’ di kampung orang!
Begitulah kira-kira. Kalau kita mau barang ekspor kita lolos dari bea cukai AS tanpa digetok pajak, ya caranya cuma satu: bangun pabrik di sana, kasih kerjaan buat rakyat AS, baru deh kita dicium mesra. Diplomasi? Sudah kayak nge-chat gebetan yang cuma read doang.
Investasi, Bukan Basa-basi
Menurut masternya hukum internasional, Prof. Hikmahanto Juwana, negosiasi tarif bisa jadi cuma permainan politik yang lama-lama kayak sinetron striping: panjang, berliku, dan ending-nya nggak jelas. Jalan tercepat? Bikin pabrik, produksi barang di AS, dan biarkan rakyat AS bangga pakai produk “Made in Indonesia – dari tanah mereka sendiri.”
Tapi… mari kita realistis. Siapa di sini yang punya duit buat bangun pabrik di Texas? Siapa yang mau bayar buruh AS yang gajinya bisa bikin pingsan direktur HRD kita? Dan yang paling penting, siapa yang mau tinggal di negeri yang presidennya suka tweet war sama selebriti?
Ketika BUMN Jadi Bule
Nah, ini dia pertanyaan yang bikin senam otak: apakah BUMN kita bersedia jadi warga kehormatan Uncle Sam? Alih-alih ekspansi ke desa-desa, malah buka cabang di Dakota. Atau jangan-jangan kita bakal lihat PLN bangun gardu listrik di Alabama, atau Peruri cetak uang buat Negara Bagian Utah?
Sementara itu, pabrik-pabrik Amerika sendiri sedang rajin pindahan ke negara yang upah buruhnya cukup dibayar dengan mie instan dan harapan. Lah kita, malah disuruh balik arah dan ngekos di AS. Ironi ini bisa bikin garam di dapur ikut nangis.
Tunggu Saja Ambyar Sendiri
Hikmahanto menyarankan, daripada kita capek nyamperin meja perundingan yang ujungnya cuma dikasih teh basi, lebih baik kita duduk manis dan nunggu rakyat AS sendiri yang ngamuk. Soalnya, kalau harga barang di sana makin mahal gara-gara tarif, bisa jadi mereka sendiri yang bakal demo depan Gedung Putih sambil teriak, “Bring back cheap products!”
Ibarat mantan yang jual mahal, ya sudah lah, biarin aja. Nanti juga balik sendiri kalau sepi perhatian.
Kesimpulan ala Gareng
Jadi intinya, tarif 0% dari AS itu bukan soal diplomasi, tapi soal “siapa mau nebeng kerja di tanah siapa.” Dan kalau pemerintah kita mau serius, ya mari kita siapkan koper, visa kerja, dan blueprint pabrik.
Kalau enggak? Ya sudah, mari kita tunggu sampai Amerika sadar bahwa produk kita itu justru yang mereka butuhkan, bukan sekadar pilihan di rak supermarket.
Toh, kadang yang nggak dihargai justru yang paling dicari… setelah semuanya ambyar.
Catatan Redaksi:
Buat para pembaca GarengPetrok, kalau ada yang punya ide pabrik apa yang cocok kita bangun di AS—selain pabrik meme dan pabrik sabar—silakan komen di bawah. Siapa tahu bisa jadi startup internasional!
#GarengPetrokStyle – satire boleh, makna tetap jalan terus.
















