JAKARTA – Hari Selasa, tanggal cantik 30 April, awak media dari PWI Jaya yang dipimpin oleh Mas Kesit B. Handoyo (bukan Keset lho ya!) mendadak berlayar—bukan di laut, tapi ke daratnya TNI AL, tepatnya Markas Komando Armada RI di Gunung Sahari. Ngapain? Bukan mau ikut wajib militer, tapi mau ngopi-ngopi sambil bahas sinergi, strategi, dan komunikasi—yang kalau salah dikit bisa jadi komedi.

Katanya sih audiensi ini buat mempererat hubungan antara pers dan TNI AL. Tapi jangan salah paham, ini bukan modus wartawan nyari headline, atau TNI AL nyari panggung. Ini sinergi beneran, kayak duet Gareng-Petruk: satu nanya, satu nyeletuk.
Kesit bilang begini (bukan bisik-bisik): “Kami apresiasi banget sama keterbukaan Koarmada RI, apalagi soal pertahanan laut. Jangan cuma kapal perang yang siap tempur, tapi juga informasi harus siap tayang, biar rakyat nggak tenggelam dalam hoaks.”
Wah, cakep. Kalau boleh usul, sekalian aja tiap kapal perang dikasih wartawan embedded. Siapa tahu bisa live report: “KRI Ngabret-405 sedang menyergap kapal asing, sambil narasumber ngopi di geladak.”
Panglima Koarmada, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, pun menyambut dengan ramah, hangat, dan (mungkin) sepiring gorengan. Beliau bilang penting banget peran media dalam membentuk citra TNI AL. Ya iyalah, kalo nggak ada media, bisa-bisa publik tahunya laut cuma buat mancing sama syuting FTV.
Tapi Petruk nyeletuk, “Citra itu penting, tapi jangan sampe lebih kinclong dari kapal perang yang catnya ngelupas. Sinergi harus dua arah, media jangan cuma muji, TNI juga jangan alergi kritik.”
Lho, tapi ini serius. Pertemuan ini punya makna besar. Di negeri yang lautnya lebih luas dari janji kampanye, pertahanan maritim itu urusan nyawa negara. Dan media, kalo nggak ikut melek laut, bisa-bisa lebih sibuk bahas artis cerai daripada kapal selam nyelam diam-diam.

Jadi sinergi ini penting. Tapi inget, jangan sinergi ala sinetron: kelihatan akur di depan kamera, di belakang saling tikung. Harus jujur, terbuka, dan berani kritik. Karena kata Petruk, “Kapal yang kuat itu bukan cuma yang bersenjata, tapi juga yang nggak tenggelam karena tutup telinga.”
Akhir kata, kita dukung sinergi ini. Tapi tolong, kalau ada latihan perang, wartawan dikasih pelampung yang bener, jangan pelampung tiup-tiup. Ngeri kalau nanti reportasenya berubah jadi “Wartawan Hilang di Selat Sunda.”
















