JAKARTA —
Hari Jumat, 13 Juni 2025, akhirnya sejarah (dan sedikit kelegaan) tercipta di kantor Dewan Pers, Jakarta. Dua kubu yang sempat “saling tuding tapi tak saling undang” kini sepakat: kita bikin panitia bareng, kita bikin kongres bareng, kita (semoga) rukun bareng.
Ketua Umum PWI hasil Kongres Bandung, Hendry Ch Bangun, dan Ketua Umum PWI versi Kongres Luar Biasa Jakarta, Zulmansyah Sekedang, resmi menandatangani SK Panitia Bersama Kongres Persatuan. Disaksikan oleh para petinggi Dewan Pers, momen ini kayak akad nikah politik: ada saksi, ada perjanjian, tinggal ngarep jangan ada drama cerai kilat.

—
Dulu Musuhan, Kini Satu Panitia: Kok Bisa?
Garéng nyeletuk, sambil baca daftar nama panitia:
> “Lho, ini beneran panitia kongres atau daftar pemain sinetron ‘Dua Cinta Satu Mikrofon’?”

Ternyata bisa, Rek! Bisa rukun. Dengan syarat: ruangannya ber-AC, disaksikan Dewan Pers, dan semua pihak udah capek berdebat di grup WA.
“Kalau dulu rebutan kursi, sekarang rebutan siapa yang duluan bicara soal ‘rekonsiliasi’,” kata Petruk sambil nyengir.
—
Panitia SC dan OC: Tim Impian atau Tim Penuh Taktik?
Struktur Steering Committee (SC) terdiri dari tujuh nama. Tiga dari Bandung, tiga dari KLB Jakarta, satu dari “unsur netral”. Netral di sini maksudnya: nggak punya utang budi ke dua kubu, tapi tetap punya jadwal rapat.
Salah satu yang ditunjuk dari unsur netral adalah Totok Suryanto, Wakil Ketua Dewan Pers, yang katanya bakal jadi “penyejuk suasana”. Kita doakan semoga bukan “penonton pasif” di tengah duel narasi dua kubu.
Sementara itu, Organising Committee (OC) dibikin dengan struktur lengkap: ada bidang persidangan, pendanaan, akomodasi, transportasi. Bahkan kalau perlu, tinggal tambah “bidang tebar senyum dan peluk damai”.
—
Kongres atau Wayang Orang?
Zulmansyah berharap semua panitia bekerja rukun, sehat, dan patuh pada konstitusi PD PRT PWI.
Hendry berharap SC dan OC bisa gerak cepat. Bahkan mungkin kongres bisa digelar sebelum akhir Agustus.
Petruk nyeletuk lagi:
> “Kalau bisa jangan cuma cepet, tapi juga jujur. Jangan sampe kongres ini jadi kayak wayang orang—seru di panggung, tapi penontonnya udah tau ending-nya siapa yang duduk di singgasana.”
—
Catatan Kecil: Tentang Pers yang Tersesat
Yang paling penting dari semua ini bukan cuma struktur panitia, tapi struktur nurani.
Karena organisasi wartawan itu bukan tempat rebutan jabatan, tapi rumah akal sehat, tempat kata dijaga, bukan digadaikan.
Garéng bilang:
> “Semoga PWI bisa balik jadi tempat wartawan belajar integritas, bukan cuma jadi tempat kumpul buat rebutan tiket ke kongres.”
Petruk menambahkan:
> “Karena wartawan yang baik bukan yang banyak gelar organisasinya, tapi yang nulis berita tanpa titipan, tanpa tekanan, tanpa embel-embel proyek.”
—
Penutup: Kopi, Kongres, dan Kode Etik
Dengan SK Panitia Bersama telah ditandatangani, harapannya sederhana tapi berat:
Jangan ada kongres rasa rebutan konsumsi. Jangan ada sidang rasa sinetron. Dan jangan ada hasil yang bikin jurnalis jujur merasa ditinggal.
Garéng dan Petruk pamit.
(Mau bantu kongres? Nggak lah. Tapi siap bantu doa… biar yang disepakati ini bukan cuma tanda tangan formal, tapi juga tanda damai nasional wartawan.)
—
Laporan oleh: Eko TW
Ilustrasi: Dua pena bertemu di atas satu meja. Semoga tinta yang mengalir adalah tinta kebenaran, bukan tinta kepentingan.
![[GARÉNG PETRUK NEWS] PWI Tandatangan Damai: Dua Ketua Satu Hati, Semoga Tak Jadi Kongres Rasa Reuni Alumni Drama!](https://garengpetruk.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20250613-WA0105.jpg)














