Di dalam ruang pengadilan yang dingin dan penuh formalitas, kadang kita lupa bahwa hukum sejatinya lahir dari rasa keadilan, bukan hanya dari teks dan pasal. Tapi mengapa keadilan hari ini terasa kering? Mengapa putusan hukum sering kali lebih banyak menimbulkan luka daripada menyembuhkan?
Mungkin, karena hukum kini ditentukan oleh jiwa-jiwa dewasa—jiwa yang penuh dendam, penuh amarah, penuh kepentingan. Jiwa yang terlalu sibuk menimbang untung rugi, bukan rasa dan nurani. Jiwa yang terlalu takut dianggap lemah jika menunjukkan belas kasih.
Bayangkan jika hukum ditentukan oleh jiwa yang kekanak-kanakan. Jiwa anak-anak yang jujur, polos, dan belum diracuni oleh ego dan kepentingan. Mereka tahu kapan sesuatu itu tidak adil, bahkan sebelum tahu apa itu hukum. Mereka bisa menangis melihat orang lain kelaparan, bisa membagi bekalnya tanpa berpikir panjang.
Bayangkan sebuah kasus:
Seorang ayah tertangkap mencuri makanan demi istri dan anaknya yang sudah tiga hari tak makan. Hakim dewasa akan memutuskan: “Bersalah, karena mencuri tetaplah mencuri.”
Tapi seorang hakim dengan jiwa anak-anak akan berkata:
“Benar, ini salah. Tapi lebih salah lagi kita semua yang membiarkan seorang ayah kelaparan di tanah yang katanya kaya ini. Maka, selain vonis, kami putuskan bahwa semua yang hadir di ruang ini—hakim, jaksa, pengacara, wartawan, bahkan penonton—harus ikut bertanggung jawab. Kita semua memberi santunan untuk anak dan istri terdakwa. Karena hukum bukan hanya menghukum, tapi juga menumbuhkan kasih di antara sesama.”
Bukankah itu keadilan yang sesungguhnya?
Adil, namun tidak membunuh rasa. Tegas, tapi tetap manusiawi.
—
KUTIPAN ARFIAN (Founder Bantuan Hukum Prabowo (BAHU PRABOWO)
> “Keadilan bukan sekadar soal benar dan salah menurut hukum, tapi tentang siapa yang berani menanggung luka orang lain—walau hanya dengan sepotong roti, atau sepenggal rasa belas kasih.”
—
PERTANYAAN UNTUK KITA SEMUA
Masihkah kita percaya bahwa hukum bisa menyentuh hati, jika hati kita sendiri sudah tak mau disentuh?
Beranikah kita mengadili seseorang sambil melihat matanya dan merasakan laparnya?
Jika kita adalah anak dari si pencuri itu, akankah kita berkata: “Bapak bersalah dan pantas dipenjara”, atau justru berteriak: “Siapa yang membiarkan kami kelaparan?”
—
Penutup:
Kadang, keadilan lahir bukan dari pasal, tapi dari imajinasi—dan kadang, hanya anak-anak yang berani membayangkannya.















