Di Indonesia, ada satu spesies pejabat yang begitu langka, bahkan hampir punah—sebut saja Pejabat Kantong Bolong. Bukan karena kantongnya sobek beneran, tapi karena tidak ada yang bisa ditimbun di sana. Semua anggaran dialokasikan buat rakyat, tanpa ada yang “tersesat” ke dompet pribadi. Aneh, ya? Tapi, jangan salah, justru karena itu dia jadi manusia langka.
Pejabat Kantong Bolong ini bukan sekadar mitos seperti keberadaan unicorn di film-film. Konon, mereka memang ada. Dalam kesehariannya, dia dikenal sangat sederhana. Kantornya tidak dilapisi marmer mengkilap, mobil dinasnya bukan yang harga miliaran, bahkan tas yang dibawa nggak pernah disembunyikan di balik merk-merk mewah.
Bayangkan, tiap kali rapat, sang pejabat duduk dengan wajah penuh semangat, mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Begitu seriusnya, sampai-sampai anggaran “ceperan” buat beli kopi pun nggak ada, semua sudah dialihkan buat proyek desa terpencil. Kalau ditanya soal tender, jawabannya selalu lugas: “Pokoknya, yang menang yang harganya murah, tapi kualitas top. Udah, gitu aja!”
Akibatnya? Pejabat ini tidak pernah disatroni KPK. Mau gimana lagi? Mereka nggak nemu apa-apa, laptopnya bersih, rekeningnya biasa-biasa aja, bahkan sepatu dinasnya bolong saking hematnya. Kalau pun ada sidak, mungkin KPK malah ikut nyumbang buat beli sepatu baru.
Dibenci Cukong, Disukai Rakyat
Tentu saja, model pejabat seperti ini dibenci cukong-cukong. Mereka heran dan kesal, gimana caranya pejabat ini nggak tergoda sama amplop tebal? Setiap ada kesempatan negosiasi, cukong datang dengan senyuman lebar dan tas berat. Namun, si Pejabat Kantong Bolong cuma nyengir sambil bilang, “Terima kasih, saya sudah cukup. Duitnya buat bangun jembatan aja.”
Tapi di sisi lain, rakyat sangat mencintai Pejabat Kantong Bolong ini. Kalau ada pemilihan ulang, tanpa kampanye pun, warga desa akan datang dan memilih dia tanpa ragu. Mereka tahu, kalau si pejabat ini yang duduk, tidak ada cerita dana bansos hilang di tengah jalan, atau pembangunan jembatan cuma bertahan satu musim hujan.
Hati Selalu Plong, Tidak Kena “Serangan Jantung”
Pejabat Kantong Bolong ini juga tidak perlu khawatir soal serangan jantung tiba-tiba, seperti beberapa rekannya yang suka mendadak pingsan kalau lihat jaket hitam bertuliskan “KPK”. Setiap pagi, dia bangun dengan hati yang plong, karena tahu tidak ada amplop yang disembunyikan di bawah kasur. Bahkan, kalau ditanya apakah dia takut ada investigasi mendadak, dia cuma ketawa dan bilang, “Kamu nggak nemu apa-apa, selain laporan pajak yang rapi.”
Bahkan ketika rapat anggaran, dia selalu tenang. Tidak perlu panik soal mark-up harga atau “biaya siluman.” Semua transparan, seperti air bening di pegunungan. Jadi, kalau ada yang bertanya bagaimana perasaannya jadi pejabat dengan kantong bolong, jawabannya simpel, “Hati saya plong. Lebih baik kantong bolong daripada hati bolong.”
Manusia Langka
Pejabat Kantong Bolong memang manusia langka di Indonesia. Kalau ada yang bilang dia nggak realistis atau “nggak tahu cara main di lapangan,” ya biarin aja. Biarin pejabat-pejabat kantong tebal sibuk ngatur proyek, sementara dia fokus ngatur bagaimana rakyat bisa hidup lebih baik. Dan dengan begitu, dia membuktikan bahwa meski langka, pejabat yang bersih, jujur, dan benar-benar pro rakyat masih ada di Indonesia—walaupun harus kita cari dengan kaca pembesar.
Jadi, kalau suatu hari kamu ketemu Pejabat Kantong Bolong ini, jangan lupa kasih apresiasi. Siapa tahu, dalam beberapa tahun lagi, spesies ini benar-benar punah dan hanya tinggal cerita di buku sejarah. Sebab, memang benar, di Indonesia ini, pejabat seperti ini adalah harta karun yang harus dijaga.















