Setiap 17 Agustus, rakyat jelata sibuk pasang umbul-umbul, cat gapura, dan beli cat merah-putih buat kelihatan patriotik. Tapi ada kabar mengejutkan: ternyata kemerdekaan paling nikmat tahun ini bukan buat rakyat, melainkan buat Setya Novanto, alumni kasus E-KTP, yang katanya dapat tiket bebas di Hari Merdeka.
Kami, Gareng dan Petruk, tertegun. Katanya, kemerdekaan itu hak segala bangsa. Tapi kalau dilihat realitanya, kok kayaknya hak segala bangsawan. Rakyat cuma bisa merdeka dari utang kalau dapat BLT, itu pun sering telat cair.
Satir Rakyat Jelata
Mari kita jujur, wahai saudara-saudara jelata. Saat kita sibuk rebutan kursi plastik di lomba tarik tambang, para bangsawan negeri malah rebutan kursi empuk di parlemen. Saat kita keringetan makan kerupuk pake tali rafia, mereka keringetan ngitung hasil “kerupuk proyek”.
Dan sekarang, Setnov sudah bebas merdeka. Wajahnya sumringah, lebih meriah dari kembang api di malam tujuhbelasan. Rakyat? Jangan iri. Tugas kita cuma sorak-sorai, pura-pura bangga, lalu pulang dengan hadiah doorprize kipas angin.
Opini Nakal Gareng & Petruk
Menurut kami, kemerdekaan di negeri ini cuma beneran terasa di lomba rakyat. Di lomba balap karung, semua orang sama-sama jatuh. Di lomba panjat pinang, semua orang sama-sama kotor. Di lomba tarik tambang, semua orang sama-sama keseret.
Itulah republik sejati: sama-sama susah.
Tapi di atas sana? Ada lomba versi elite. Balap proyek, panjat anggaran, tarik-menarik kuasa. Dan pemenangnya? Ya sudah pasti bukan kita.
Jadi, wahai rakyat jelata, jangan iri kalau Setnov sudah merdeka. Anggap saja beliau pahlawan nasional versi VIP yang jasanya tidak tertulis di buku sejarah, tapi tertulis rapi di rekening entah siapa.
Kita? Sudah cukup ikut lomba, makan nasi kotak, lalu pura-pura gak baca berita absurd ini.
Karena di negeri ini, yang betul-betul adil cuma satu: kerupuk yang digantung sama rata buat semua peserta lomba.
Begitu, jadilah opini khas Gareng Petruk: nyelekit, satir, tapi ngakak.
















