Wahai kawan, istirahatkan sejenak hatimu. Letakkan beban yang tak tampak namun begitu terasa. Dunia ini berisik, kadang lebih gaduh dari perang, sebab peperangan batin lebih sunyi namun menyesakkan. Hati yang terus dipacu, tanpa sempat menepi, akan kehilangan arah. Seperti mata yang terus menatap mentari, ia tak hanya silau, tapi bisa buta.
Ketahuilah, bila hati lelah dan terluka terlalu lama, ia bisa kehilangan penglihatannya. Bukan penglihatan mata, melainkan mata hati—yang oleh para sufi disebut basirah. Ketika basirah tertutup, kita menjadi asing pada diri sendiri. Kita melihat, tapi tidak memahami. Kita mendengar, tapi tidak menghayati. Kita berjalan, namun tak tahu ke mana arah pulang.
Buta Apakah yang Dimaksud?
1. Buta Rasa Syukur
Hati yang letih mudah mengeluh. Ia lupa bahwa nafas yang mengalir, detak yang berdetak, adalah anugerah. Ia hanya melihat apa yang kurang, tidak apa yang sudah cukup.
2. Buta Hikmah
Ujian datang silih berganti, tapi hati yang letih tidak sanggup menafsir maknanya. Ia hanya merasa tertimpa malang, bukan dididik oleh Tuhan.
3. Buta Cinta
Ia mulai menjauh dari kasih. Memandang manusia dengan curiga, bahkan lupa mencintai dirinya sendiri. Cinta bukan lagi penggerak, tapi beban.
4. Buta Harapan
Ia tak lagi menengadah. Langit menjadi kosong, masa depan tampak gelap. Ia lupa bahwa bahkan malam pun menyimpan bintang.
5. Buta Tuhan
Inilah yang paling mengerikan. Ketika hati terlalu lelah, ia bisa merasa ditinggal oleh Yang Maha Ada. Padahal Tuhan tak pernah jauh—hanya hati kita yang menjauh.
Solusinya? Tenanglah. Menepilah. Diamlah.
Wahai kawan, jalan keluarnya bukan lari, tapi berhenti. Istirahat bukan berarti menyerah. Bahkan para pejuang paling gagah pun tahu kapan mereka harus duduk, menyesap air, dan memandang langit.
Berzikir-lah, bukan sekadar menyebut nama-Nya, tapi menghayati bahwa engkau bukan siapa-siapa tanpa-Nya.
Tangisilah luka itu dalam diam. Sufi mengatakan, air mata adalah obat paling suci, karena ia membawa kotoran jiwa keluar dari lubuk hati.
Ambillah waktu untuk sendiri. Temui dirimu. Lalu temui Dia yang tak pernah meninggalkanmu. Bacalah alam, dengarkan angin, dan biarkan sepi mempertemukanmu dengan makna.
Hati yang kembali jernih akan melihat lebih luas. Ia akan melihat bukan hanya apa yang tampak, tapi apa yang tersembunyi. Ia akan mampu mencintai, meski belum dimengerti. Ia akan percaya, meski belum melihat hasil.
—
Akhirnya, wahai kawan,
Istirahatkanlah sejenak hatimu. Bukan karena engkau lemah, tapi karena engkau terlalu kuat terlalu lama. Dan seperti malam yang menenangkan bumi, istirahat akan membuat jiwamu kembali terang.















