JEMBER, GARENGPETRUK.COM – Suasana Pendopo Wahyawibawagraha Jember mendadak jadi semacam markas Avengers, Rabu (23/7/2025). Bukan karena ada Captain America, tapi karena ratusan orang berkumpul demi misi mulia: memerangi narkoba, premanisme, dan radikalisme.
Acara bertajuk “Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) serta Antisipasi Premanisme” ini dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai unsur: Kesbangpol, Dispendik, Kemenag, LSM, Ormas, media, dan entah siapa lagi yang nyempil di pojok sambil ngopi.

(Dokumen Pribadi)
Bakesbangpol: Ormas Jangan Jadi Ormasalah!
Agus Imantoro, SE, S.Sos, mewakili Bakesbangpol Provinsi Jatim, tampil seperti dosen tamu yang tahu banyak hal—dan memang tahu. Beliau menyampaikan bahwa dunia sedang kacau balau, dari ekonomi goyang sampai geng preman makin banyak gaya.
“Jawa Timur sangat konsen! Banyak oknum ormas yang belagak jadi centeng. Itu bukan ormas, tapi ormasalah!” ujar Agus, disambut tepuk tangan dan kode keras ke beberapa peserta yang mendadak nunduk.
Ancaman narkoba pun tak kalah ngeri. Barang haram ini nyusup ke semua kalangan: dari anak muda sampai bapak-bapak yang hobi joget di TikTok. Maka menurut Agus, semua pihak harus “melek dan melek” (bukan typo, itu dua kali biar sadar betul).

(Dokumen Pribadi)
Pemkab Jember: Ayo Jadi Agen 3R (Rukun, Rasional, Rame-Rame Berantas)
Asisten Administrasi Umum Setda Jember, Isnaini Dwi Susanti, SH, M.Si, mewakili Bupati, menyampaikan pesan penuh semangat (dan sedikit sentilan manja).
“Jember nggak bisa sendiri. Kita harus gotong royong. Kalau preman datang, jangan lari, tapi laporan. Kalau narkoba masuk, jangan nyoba, tapi tolak!”
Beliau menegaskan pentingnya sinergi antar elemen, mulai dari TNI, Polri, tokoh masyarakat, ormas, bahkan emak-emak grup WhatsApp. Semua punya peran—minimal jadi netizen yang waras.

(Dokumen Pribadi)
FGD: Bukan Forum Gosip Dadakan, Tapi Forum Ganyang Disrupsi
Acara makin panas saat tiga narasumber kelas berat tampil dalam sesi FGD:
Hari Prianto, SE (BNN Jatim) yang bilang, “Narkoba itu kayak mantan toksik—harus dijauhi dan jangan diberi celah buat balik.”
Kompol Jamal (Polda Jatim) menekankan pentingnya pendekatan preventif dan persuasif, bukan cuma nangkap lalu ditinggal nikah.
Kompol Totok Suhartono (Densus 88) memaparkan strategi deradikalisasi. “Radikalisme itu bukan cuma soal bom, tapi juga soal pola pikir yang menghakimi orang lain kayak admin komentar netizen +62.”
Mereka sepakat bahwa “Indonesia Emas 2045” bukan cuma mimpi, asal hari ini semua mau kerja bareng, bukan saling lempar kesalahan kayak lempar amplop kosong.

(Dokumen Pribadi)
Gareng & Petruk: Kalau Mau Bebas Narkoba, Jangan Cuma Selfie Bareng Banner!
Sebagai editor pengamat yang bukan hanya doyan sate, tapi juga satekan kritik, Gareng dan Petruk menyimpulkan:
“Narkoba, radikalisme, dan premanisme itu kayak trio jahat di sinetron. Lawannya harus kompak. Jangan sampai yang satu sosialisasi, yang lain malah sibuk cari konten TikTok.”
Mereka juga berharap hasil dari sosialisasi ini tidak cuma berhenti di dokumentasi dan kue kotak. Tapi betul-betul jadi gerakan yang hidup—bukan gerakan kepala waktu ngantuk di seminar.
Ayo Gas, Jember!
Mari jadikan Jember dan Jawa Timur tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari premanisme, narkoba, dan radikalisme. Karena masa depan emas tak akan hadir di negeri yang sibuk berdebat, tapi abai bertindak.
Gareng-Petruk pamit dulu, mau ke warung sebelah cari tahu… siapa preman yang sering utang tapi nggak pernah bayar!
















