PONOROGO, www.garengpetruk.com – Kalau ada mesin waktu, jangan-jangan bentuknya bukan kapal luar angkasa, tapi justru… stand bambu beratap jerami yang nongol di Aloon-Aloon Ponorogo! Dari tanggal 9 sampai 15 Juli 2025, kota Reog ini benar-benar disulap jadi back to masa lalu edition lewat acara Ponorogo Rikolo Semono. Dan tenang, ini bukan acara nostalgia bapak-bapak pensiunan saja, tapi juga tempat pembentukan karakter pemuda yang (katanya) generasi healing, bukan generasi willing.
Acara dibuka oleh Bupati Ponorogo, H. Sugiri Sancoko, yang tampil gagah berwibawa dan penuh kata-kata makna. Dalam sambutannya yang disambut meriah oleh tepuk tangan rakyat—dan juga pedagang cilok—Bupati Sugiri bilang:
“Ponorogo Rikolo Semono bukan sekadar pertunjukan, tetapi sarana membangun karakter pemuda.”
Waduh! Karakter pemuda?
Berarti nggak cuma buat selfie-selfie pakai blangkon dan unggah ke TikTok, tapi juga buat nyambung akar budaya yang (katanya) udah mulai lepas kayak sandal jepit ketinggalan di musholla.
Kembali ke Masa Lalu, Tapi Ekonominya Masa Kini
Jangan bayangin Ponorogo Rikolo Semono cuma pamer tari Reog. Lah, di tengah lapangan ada UMKM berjajar rapi! Stand-nya dari bambu, atapnya dari jerami—bukan jerami politik loh ya.
Ada yang jual kerajinan tangan, makanan tradisional, pernak-pernik tempo dulu, bahkan ada yang jual… nostalgia! (Tapi jangan cari mantan, tidak dijamin tersedia.)
Sambil ngemil gethuk, pengunjung bisa muter-muter sambil bilang, “Wah, suasanane kaya ndesa biyen, yo!”
Yang jomblo bisa pura-pura sibuk foto-foto biar nggak terlalu kelihatan kesepian.

Dokumentasi: prbadi dan Hj. Lisdyanrita.SH wabub Ponorogo
Panggung Hiburan: Antara Gamelan, Gaya, dan Gebrakan!
Bukan Ponorogo namanya kalau nggak ada seni pertunjukan. Panggung utama tiap malam jadi lautan penonton. Ada gamelan, tari klasik, sampai fashion show Jawa tempo dulu yang style-nya kayak sinetron kolosal tapi aestetik.
Andre, warga Mangkujayan yang terlihat bahagia meski sendal jepitnya belepotan tanah, berkata,
“Rasanya benar-benar dibawa ke masa lampau!”
Kalau bisa dibawa ke masa depan, mungkin Andre juga pengin tahu kapan dia nikah—tapi itu di luar wewenang panitia.

Dokumentasi: prbadi dan Hj. Lisdyanrita.SH wabub Ponorogo
Ponorogo: Kota Kreatif, Bukan Kota Gimik!
Yang bikin acara ini lebih dari sekadar event Instagramable, adalah visi besarnya: membangun karakter pemuda, menggerakkan UMKM, dan menjadikan Ponorogo sebagai kota kreatif yang (semoga) beneran kreatif, bukan cuma kreatif ngeles waktu disuruh kerja bakti.
Bupati Sugiri berharap lewat acara semacam ini, budaya bisa terus hidup, ekonomi rakyat naik, dan pemuda bisa lebih peka—bukan cuma peka sinyal WiFi, tapi juga peka terhadap nilai-nilai lokal.
“Semangat pelaku UMKM harus terus dibangkitkan,” tegasnya.

Dokumentasi: prbadi dan Hj. Lisdyanrita.SH wabub Ponorogo
Gareng Ngomong:
“Yo wis bener kuwi, Le! Saka budaya lan tradisi, muncul inovasi. Tapi ojo mung numpang gaya, kudu ono gagasane. Wong kreatif ki ora mung bisa ngedit video, tapi bisa ngurip-urip kampung halaman. Nek ngono, Ponorogo ora mung kota Reog, tapi kota sing iso ‘ngreog’ masa depan!”
Ponorogo Rikolo Semono adalah cermin. Ia memantulkan wajah Ponorogo masa lalu, tapi juga menyusun gambaran masa depan. Di antara kerlip lampu aloon-aloon dan bau ketan bubuk kacang, tersimpan harapan: agar kreativitas dan karakter tidak hanya jadi tema lomba pidato, tapi jadi nadi kehidupan bersama.
Ponorogo rikolo semono… tapi semoga pemudanya nggak rikolo semene wae!















