Di sebuah kampung yang belum masuk Google Maps, tinggal seorang perempuan. Namanya Marni. Tapi karena hidupnya sering digodain takdir, warga kampung memanggilnya: Bu Ujian.
Suaminya kerja serabutan, tapi lebih sering serabuk karena janji proyek yang tak kunjung cair. Anaknya tiga, sekolah daring pake hape satu, yang layarnya pecah kayak hati Marni tiap akhir bulan.
“Bu Marni kok kuat, yo?”
“Lha wong nangis aja sudah jadi rutinitas, tinggal ganti tisu aja.”
Tuhan Sedang Sibuk Mencoba Marni
Gareng duduk di bawah pohon sawo, melihat Marni lewat bawa galon isi air mata, bukan air isi ulang.
“Bu, kok kayaknya hidup panjenengan itu… diuji mulu?”
“Lha iya, Mas. Katanya, yang diuji itu yang disayang. Tapi kok ya rasane udah kayak semester gasal terus.”
Petruk nyeletuk dari belakang:
“Kadang aku curiga, jangan-jangan Tuhan pakai sistem uji coba versi beta ke rakyat kecil. Soalnya kok error terus solusinya.”
Sufistik dalam Peluh
Di malam hari, Marni menatap langit.
“Ya Tuhan, aku tak minta kemewahan. Cukup jeda. Agar aku bisa napas sebelum dihempas lagi.”
Ia bukan ahli tafsir, tapi air matanya mengalir seperti ayat-ayat sunyi dari hati yang sabar dipaksa kuat.
“Jika hidup adalah syair, maka deritaku adalah bait paling lirih yang bahkan malaikat pun diam.”
Gareng menulis di buku catatannya:
“Ada yang hidupnya mewah tapi merasa kurang, ada yang hidupnya seret tapi masih bisa bersyukur. Yang pertama sering naik podium, yang kedua cuma naik angkot.”
Lucu Tapi Miris, Miris Tapi Manis
Suatu hari, pemerintah bagi-bagi bantuan. Tapi nama Marni tak tercantum. Katanya, karena ia sudah “terdata sebagai keluarga sejahtera”.
“Sejahtera dari mana? Nasi aja kadang lauknya kutang.”
“Maksudnya?”
“Kubis ditumis, campur tangisan.”
Petruk pun ngakak, tapi pelan. Karena tahu, di balik lelucon rakyat kecil, ada perut yang kempes dan hati yang keras dipaksa ikhlas.
Air Mata yang Jatuh, Bukan Karena Lemah
Marni bukan wanita lemah. Ia hanya lelah, tapi tak pernah menyerah.
Anaknya pernah tanya:
“Bu, Tuhan itu beneran adil?”
Marni menjawab sambil menatap langit:
“Tuhan itu adil, Nak. Cuma sistem distribusi keadilannya kadang tersumbat di birokrasi.”
Gareng nulis lagi:
“Jika tangisan rakyat bisa dicairkan, mungkin bendungan sudah jebol duluan.”
Akhir Cerita Tanpa Akhiran
Suatu malam, Marni bermimpi bertemu Tuhan. Dalam mimpi, ia tidak minta rumah besar, tidak minta mobil, hanya bilang:
“Tuhan, kalau aku tak boleh bahagia, setidaknya beri aku kemampuan untuk tetap tersenyum.”
Dan ketika ia terbangun, ia tersenyum.
Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia sudah berdamai dengan semesta.
Epilog: Catatan dari Angkringan
Dia yang diuji, belum tentu lemah. Justru dialah penjaga bumi yang diam-diam menyelamatkan dunia dari runtuh oleh keputusasaan.
Air matanya jatuh, bukan tanda kalah. Tapi tanda bahwa cinta dan iman masih hidup, meski dompet sudah wafat.
Gareng dan Petruk berdiri, memandangi Marni dari kejauhan.
Mereka tahu: negara belum berpihak padanya. Tapi semesta sudah mencatat tiap tetes peluhnya.
Redaksi Gareng Petruk
Tempat cerita getir diseduh dengan humor, agar hidup tak sepahit kenyataan. Kalau kamu adalah Marni di dunia ini, percayalah: kamu sedang jadi tokoh utama yang Tuhan banggakan.















