Bojong Kulur, garengpetruk.com – Minggu, 4 Mei 2025, warga Bojong Kulur dan Vila Nusa Indah 5 bukan sedang senam pagi atau jalan santai bareng RT. Mereka turun ke jalan dalam Aksi Damai Percepatan Normalisasi Sungai Cileungsi – Cikeas, sambil bawa spanduk, poster, dan semangat membara yang isinya: “Kami Tidak Mau TENGGELAM Lagi!”
Iya, 3000 warga—dari anak kecil sampai embah-embah yang biasanya cuma ngamuk kalau tukang bakso telat—semua turun gunung (dan turun got) demi satu tujuan mulia: banjir minggat, sungai dirapikan, dan pemerintah sadar diri.
Dari Long March ke Longkap Respons
Aksi ini dipimpin oleh Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi–Cikeas (KP2C), Bapak Puarman, yang sejak lama lebih aktif mengawasi sungai daripada sebagian pejabat yang ngurusnya justru ngalor-ngidul ke luar kota.
Dengan spanduk gede-gede, warga meneriakkan tuntutan:
“PERCEPATAN Normalisasi Sungai Cileungsi – Cikeas, atau kami bikin perahu sendiri-sendiri!”
Banjir yang rutin mampir kayak utang tetangga ini membuat warga harus jadi “Survivor Bojong Kulur” tiap musim hujan. Rumah berubah jadi kolam renang, motor jadi perahu tempel, dan dapur? Jadi tempat evakuasi mie instan.
Pemerintah, Tolong Jangan Cuma Lihat dari Udara!
Koordinator aksi damai, Syamsudin, menyampaikan Surat Terbuka kepada Presiden RI, Gubernur Jawa Barat, dan Bupati Bogor. Isinya? Permintaan tulus dan agak getir: “Normalisasi sungai jangan ditunda terus kayak gajian PNS!”
Warga merasa selama ini perhatian pemerintah cuma datang saat kampanye atau saat bikin video drone. Padahal yang dibutuhkan bukan angle estetik, tapi excavator dan alat berat buat bersihin lumpur, bukan bersihin citra.
Gareng & Petruk: Air Mengalir, Tapi Tanggung Jawab Kok Mandek?
Petruk, sambil ngelap sepatu yang kemarin sempat tenggelam di ruang tamu, bilang:
“Warga ini bukan minta Disneyland, cuma minta sungai nggak numpang tidur di rumah mereka.”
Gareng, yang baru saja nyebur karena dikira genangan itu kolam lele, nyeletuk:
“Normalisasi bukan proyek, Bro! Ini soal keselamatan. Jangan nunggu warga pasang pelampung sebelum ngasih solusi.”
Humor Tragis Ala Vila Nusa Indah
Banyak warga yang kini hafal titik banjir lebih baik daripada titik koordinat rumah sendiri. Setiap kali hujan deras, yang dicek bukan Google Maps, tapi posisi tangga dan rak tinggi buat mindahin TV.
Sungai Cileungsi dan Cikeas pun kini lebih mirip kompetitor Waterboom daripada sungai konservatif. Bedanya, yang ini datangnya tak diundang, perginya pakai korban.
Harapan Masih Mengalir (Tapi Jangan Kayak Sungainya Dong!)
Aksi ini jadi simbol bahwa warga kecil tidak kecil semangatnya. Mereka ingin didengar, bukan disuruh bersabar terus. Dan kalau pemerintah bisa bikin tol dalam waktu cepat, masa normalisasi sungai aja kalah sama drama Korea 16 episode?
Bojong Kulur sudah bersuara. Sekarang, giliran pemerintah jangan pura-pura budeg.
Karena kalau air bisa datang tengah malam, seharusnya solusi juga bisa datang tanpa undangan.
Kami tidak minta istana, cuma minta rumah kami tidak jadi rawa.
#SaveBojongKulur
#NormalisasiJanganDitunda
#KamiTidakMauTenggelamLagi















